Sunday, 11 September 2016

Wujudkan CintaMu pada Kekasihku, Tuhan!

Assalamualaikum warahmatullaah..

Sudah lama tak berkunjung di blog tercinta ini. Ah, rasanya rindu sekali, tapi tak mengalahkan rinduku padamu, Kekasih yang kuharap bisa menggandengku kelak.
Kekasih? Iya, kamulah kekasih yang kubicarakan itu. Kamu yang sebenarnya ingin segera kumiliki seutuhnya dalam ikatan yang halal, bukan kekasih-kekasihan yang semu.
Kau tahu, Kekasihku? Apa yang selalu wanita –khususnya aku– idamkan  dari suatu pendekatan? Adalah hubungan yang lebih suci, dan lebih mulia di hadapan Tuhan. Bukan hubungan pacaran yang sudah terjalin bertahun-tahun tanpa tujuan yang pasti. Iya, aku percaya dalam setiap pacaran pasti menggunakan dalih untuk menuju ke jenjang yang lebih serius. Tetapi tidak sedikit darinya setelah bertahun-tahun lamanya berpacaran namun akhirnya kandas karena berbagai alasan yang dibenarkan dari masing-masing pihak. Entah itu karena kekurangcocokan prinsip, adanya pihak ketiga yang sengaja ingin menghancurkan, dan bahkan adanya pihak lain yang lebih mencintai dan siap mempertanggungjawabkan cintanya di hadapan Tuhan dalam ikatan yang suci.
Entah mengapa alasan memutuskan pacaran yang terakhir aku sebutkan itu terdengar lebih berani dan lebih romantic. Karena aku percaya dengan ungkapan “kalau mencintai seseorang, ungkapkan perasaanmu kepadanya dan juga orang tuanya, kemudian segerakanlah bawa cintamu di hadapan Tuhan dalam ikatan perkawinan”. Aku tidak tahu darimana aku mendapatkan ungkapan tersebut, tapi seperti itulah seharusnya cara memperjuangkan cinta.
Kekasihku yang selalu kuperdebatkan dengan Tuhan, kau tahu? Sering sekali malam-malam telah aku lewati dengan curahan, permohonan, dan bahkan perdebatan dengan Tuhan. Ya, perdebatan. Tuhan sebagai hati kecilku, dan akulah yang selalu menguasai egoku.
Semenjak kepergianmu dengan dalih ingin mendekatkan pada Sang Pemilik Hati di alam semesta, aku pun juga berkomitmen untuk tak ingin menjalin hubungan yang kata anak kekinian disebut pacaran. Aku telah berjanji pada Hati Kecilku untuk tidak menerima tawaran berpacaran, dan hanya akan menerima lamaran pernikahan saja. Kalau urusan mencintai, semua itu hanyalah hal mudah yang dapat Tuhan ciptakan dalam sekejap. Aku tak ingin berpacaran, Kekasihku.
Tapi tiba-tiba Kau datang bertamu ke pintu hatiku untuk kedua kali. Kau seolah membawa bingkisan rasa bersalah yang ingin kautebus dan seikat cinta di tanganmu. Hatiku sang sudah damai tanpa rasa cinta yang remeh temeh pun akhirnya terombang-ambing dengan segudang fakta yang telah kupahami betul tentang risiko jika kuterima kembali cintamu. Ya, aku sadar aku pasti akan kembali menunggu waktu yang lama agar kau bisa membuktikan perasaan cintamu padaku. Aku tahu itu pasti, sama seperti saat kau mencintaiku dulu. Lalu apa yang harus kulakukan, Kekasihku?
Setelah perdebatan panjang kala itu, akhirnya kuputuskan untuk membuka kembali hatiku untukmu dengan satu syarat yang mungkin hanya aku dan Tuhanlah yang tahu. Syarat yang mungkin berat untukmu atau akan sangat mudah dilakukan orang lain yang sungguh mencintai wanitanya lebih dari apapun. Yaitu aku akan memberikan waktu satu tahun untukmu membuktikan “rasa cintamu” sampai pada ikatan yang akan direstui Tuhan di dunia dan akhirat. Aku memberikanmu waktu satu tahun, dan apabila satu tahunmu telah usai tanpa adanya kemajuan yang signifikan, aku akan mengikuti cara kerja Tuhan dalam memberikan jodohku, bagaimanapun caranya, dan siapapun dia. Itulah janjiku padaNya saat itu.
Kini setiap malam-malamku menjadi kegelisahan yang selalu kutanggung sendiri. Hari demi hari dan bahkan bulan demi bulan telah terlewati dengan sia-sia, dan bahkan yang kudapati kamu seolah belum menunjukkan kesiapan padaku. Aku takut waktuku habis dan harus melepaskanmu lagi, sedangkan aku sudah terlanjur jatuh lagi di hatimu. Aku takut, Kekasihku.
Kekasihku, pernahkah aku dan keluargaku mensyaratkan kamu harus memiliki kehidupan yang sukses dulu, ataukan pernahkah kami menuntutmu untuk mengadakan pesta pernikahan yang mewah? Selama yang kutahu di depanku, kami tak pernah memberikan syarat seperti itu padamu. Yang aku harapkan sebenarnya adalah rasa tanggung jawabmu untuk memiliki dan perasaan saling ingin membahagiakan dan menguatkan satu sama lain. Untuk pernikahan, walaupun jauh sebelumnya sebagai seorang wanita aku juga pernah menginginkan pernikahan yang mewah dengan banyak bunga dan kain putih yang melambai-lambai pada tamu undangan. Tapi mimpi mewahnya pernikahan secara berangsur kukubur dalam-dalam untuk meringankan beban dan syaratmu menghalalkanku. Karena kini, yang aku inginkan hanyalah sebuah ikatan halal dalam agama agar tidak ada lagi dosa yang kita perbuat bahkan saat pandangan kita saling beradu. Aku ingin pacaran, tetapi pacaran setelah menikah. Aku ingin benar-benar merasakan perjuangan berdua menuju kesuksesan yang diridhai Allah Ta’ala. Aku ingin secara terang-terangan menyebutmu imam dalam setiap doa-doaku pada-Nya. Aku ingin sesungguh-sungguhnya mencintaimu tanpa aling-aling yang menjerumuskan dalam dosa.
Kekasihku, bantulah aku membuktikan janjiku pada-Nya bahwa Kaulah yang terbaik buatku.
Karena aku mencintaimu.
-         Kekasihku    -

No comments:

Post a Comment