Kau tak
akan pernah tahu,
sesakit
apa kugadaikan perasaanku saat benar-benar terjatuh seorang diri;
Separah
apa saat segala luka mengucurkan darah dari semua sudut tubuhku;
dan kau
takkan pernah tahu, bagaimana rasanya merangkak dan memohon pada lini waktu
untuk menghentikan sandiwara yang sedang kau perankan.
Aku sudah
tak sanggup lagi memerankan protagonis yang melulu menangis.
Aku sudah
muak melihatmu dengan pengkhianat bertopeng malaikat itu!
Ya,
malaikat pencabut akhlak; yang memaksaku mengumpat bangsat!
Kau tak
pernah tahu gejolak dalam dada yang selalu memenangkanmu; memojokkanku bahwa
akulah penyebab semuanya.
Jiwaku
sirna dalam raga tak berbentuk.
Remuk
terhempas ombak pantai yang mengamuk!
Kau
takkan pernah tahu,
Sekuat
apa aku berusaha bangkit; walau tetap terjatuh dan tersungkur lagi pada jalan
setapak tempat kita menanamkan tujuan bersama dulu.
Kau
takkan pernah tau berapa ribu iblis yang mengiringku menuju lembah kenistaan
yang lebih dahsyat.
Dan aku
tak pernah sadar tentang jutaan malaikat yang menuntunku dan mendoakanku;
Walaupun
kau tak pernah tahu.
