Aku jatuh hati, Tuhan. Jatuh hati pada
orang yang sama yang telah menemaniku beberapa tahun terakhir ini. Jatuh hati
pada sosok yang mengenalkanku bahagia, mimpi-mimpi masa depan, bahkan mengenalkanku
dengan perjuangan dan derita.
Aku jatuh hati dengan ciptaan-Mu yang
semula bahkan kukira tak akan membuatku jatuh cinta sejauh ini. Dia sederhana,
baik, perhatian, dan yang aku baru tahu, dia kini sedang terbebani; karenaku. Tuhan,
aku jatuh hati pada salah satu makhlukmu yang semula biasa menjadi sangat
berharga, bahkan untuk melepasnya.
Tuhan, yang kutahu sekarang dia sedang
bimbang dan ragu denganku. Aku tahu semua ini memang salahku. Salahku karena
membahas hal sensitif itu dengannya, salahku karena tanpa kebetulan bapakku
bekerja di tempat yang sama dengan saudaranya, salahku karena memasang foto
keluargaku dengannya, dan salahku karena terlalu yakin padanya.
Tuhan, apa yang harus kulakukan kini? Dia
menjadi sangat berbeda sekarang, aku tahu dia merasa sangat terbebani kini, dan
aku menjadi semakin takut. Takut kehilangan orang yang telah mengajarkanku untuk
tetap tinggal walau apapun yang terjadi. Tuhan, haruskah aku mempertahankan
dia, sedangkan dia sendiri pun ragu untuk tinggal. Haruskah aku mempertahankan
egoku atau membiarkannya bebas? Atau haruskah aku melepaskannya? Sedangkan aku
sudah terlanjur nyaman pada hati yang selama ini kuanggap rumah impian di masa
depan?
Aku bingung, Tuhan. Semua terasa begitu
menyenangkan saat bersamanya dulu, bahkan di saat-saat terburukku. Semua terasa
begitu ringan saat aku tanpa dosa menceritakan semuanya pada dia. Bahkan aku
sudah menganggapnya separuh hatiku sehingga aku ingin dia tahu apa yang aku
tahu. Sampai aku sadar, tanpa sepengetahuanku dia sudah menjadi nafasku.
Aku sadar, Tuhan. Aku bukanlah siapa-siapa.
Cantik? Tidak. Kaya? Bukan. Membuat nyaman? Tidak seperti aku. Lalu apa hakku
memintanya untuk tetap tinggal. Haruskah aku melepaskannya agar dia bisa bebas
dan bahagia, Tuhan? Haruskah aku melupakan mimpi-mimpiku dengannya? Menikah
sederhana, rumah kecil yang nyaman, dua anak, menunggunya pulang kerja walau
sebulan sekali, bercanda dengannya, mungkin marahan yang selalu berakhir
pelukan, dan masih banyak lagi mimpi yang harus sirna?
Kalau memang itu yang terbaik buatnya, apa
lagi yang bisa kulakukan untuknya. Jaga dia Tuhan, aku mencintainya. Jaga
hatinya, Tuhan, agar dia bisa selalu bahagia. Aku ingin selalu bertahan, tapi
aku takut perjuanganku ini membuatnya semakin tersiksa. Aku terlalu
mencintainya, Tuhan. Aku sudah terlanjur mempercayainya. Aku akan bertahan,
sampai waktuku tiba dan harus menyerah dengan keadaan. Tapi percayalah, Tuhan.
Aku masih selalu menyayanginya. Sungguh. LLL