Thursday, 30 July 2015

Dia yang Kutunggu. Dia yang Kumau. Dia yang Selalu Kurindu.

Aku jatuh hati, Tuhan. Jatuh hati pada orang yang sama yang telah menemaniku beberapa tahun terakhir ini. Jatuh hati pada sosok yang mengenalkanku bahagia, mimpi-mimpi masa depan, bahkan mengenalkanku dengan perjuangan dan derita.
Aku jatuh hati dengan ciptaan-Mu yang semula bahkan kukira tak akan membuatku jatuh cinta sejauh ini. Dia sederhana, baik, perhatian, dan yang aku baru tahu, dia kini sedang terbebani; karenaku. Tuhan, aku jatuh hati pada salah satu makhlukmu yang semula biasa menjadi sangat berharga, bahkan untuk melepasnya.
Tuhan, yang kutahu sekarang dia sedang bimbang dan ragu denganku. Aku tahu semua ini memang salahku. Salahku karena membahas hal sensitif itu dengannya, salahku karena tanpa kebetulan bapakku bekerja di tempat yang sama dengan saudaranya, salahku karena memasang foto keluargaku dengannya, dan salahku karena terlalu yakin padanya.
Tuhan, apa yang harus kulakukan kini? Dia menjadi sangat berbeda sekarang, aku tahu dia merasa sangat terbebani kini, dan aku menjadi semakin takut. Takut kehilangan orang yang telah mengajarkanku untuk tetap tinggal walau apapun yang terjadi. Tuhan, haruskah aku mempertahankan dia, sedangkan dia sendiri pun ragu untuk tinggal. Haruskah aku mempertahankan egoku atau membiarkannya bebas? Atau haruskah aku melepaskannya? Sedangkan aku sudah terlanjur nyaman pada hati yang selama ini kuanggap rumah impian di masa depan?
Aku bingung, Tuhan. Semua terasa begitu menyenangkan saat bersamanya dulu, bahkan di saat-saat terburukku. Semua terasa begitu ringan saat aku tanpa dosa menceritakan semuanya pada dia. Bahkan aku sudah menganggapnya separuh hatiku sehingga aku ingin dia tahu apa yang aku tahu. Sampai aku sadar, tanpa sepengetahuanku dia sudah menjadi nafasku.
Aku sadar, Tuhan. Aku bukanlah siapa-siapa. Cantik? Tidak. Kaya? Bukan. Membuat nyaman? Tidak seperti aku. Lalu apa hakku memintanya untuk tetap tinggal. Haruskah aku melepaskannya agar dia bisa bebas dan bahagia, Tuhan? Haruskah aku melupakan mimpi-mimpiku dengannya? Menikah sederhana, rumah kecil yang nyaman, dua anak, menunggunya pulang kerja walau sebulan sekali, bercanda dengannya, mungkin marahan yang selalu berakhir pelukan, dan masih banyak lagi mimpi yang harus sirna?
Kalau memang itu yang terbaik buatnya, apa lagi yang bisa kulakukan untuknya. Jaga dia Tuhan, aku mencintainya. Jaga hatinya, Tuhan, agar dia bisa selalu bahagia. Aku ingin selalu bertahan, tapi aku takut perjuanganku ini membuatnya semakin tersiksa. Aku terlalu mencintainya, Tuhan. Aku sudah terlanjur mempercayainya. Aku akan bertahan, sampai waktuku tiba dan harus menyerah dengan keadaan. Tapi percayalah, Tuhan. Aku masih selalu menyayanginya. Sungguh. LLL