Saturday, 25 April 2015

Sadness in My Heart

Terkadang, meratapi nasib itu perlu, bukan? Seperti sekarang ini, yang kulakukan hanyalah meratapi nasib. Aku seperti orang gila yang kehilangan arah dan akal sehatku. Aku sangat menyesal kenapa dalam masa laluku aku sangat cupu dan kuper. Gak tahu trend dan style yang cocok untuk diri sendiri. Aku selalu mengikuti kata hati yang mungkin takpernah sesuai dalam pandangan orang lain. Aku mengutamakan kebahagiaanku sendiri daripada kesenangan orang lain yang memandangku. Aku cenderung melakukan semua itu karena atas nama pengetahuan keagamaanku yang ternyata buruk di mata orang lain. Lalu aku harus bagaimana? Aku takbisa sesempurna mereka yang bisa memadupadankan antara trend dan kata hati. Aku terlalu kamseupay. Aku kuno.
Sebenarnya, sebelum kamu – orang yang saat ini kusukai – memintaku, aku sudah berusaha berubah agar lebih baik di matamu, tapi ternyata aku masih jadul. Kukira aku sudah sedikit pantas berjalan di sampingmu, ternyata belum. Lalu aku harus bagaimana lagi? Seandainya aku anak orang kaya, atau seandainya aku gadis yang hanya memikirkan style, shopping, dan foya-foya semata, pasti kamu akan mendapatiku sebagai wanita yang sempurna di matamu. Tapi aku tak bisa hanya sekadar seperti teman-temanku. Aku selalu ingin meraih mimpi-mimpiku – yang lebih dari sekadar penampilan luarku – dengan uang tabunganku sendiri. Kamera, cicin, handphone, sepatu, buku, tabungan (walaupun masih sedikit) dan semua yang kumiliki itu semua darimana kalau bukan dari menyisihkan uang sakuku? Hidup itu sulit, semua butuh uang sayang! Aku bukan teman-temanmu yang sebagian besar dengan mudahnya mendapatkan semua yang diinginkan dari orang tuanya secara cuma-cuma. Bahkan aku harus memberikan jaminan dulu kepada orang tuaku untuk mendapatkan tambahan uang saku.

Aku bisa saja menjadi sempurna di matamu, tapi asal kamu tahu, Kekasihku. Kalau kamu ingin aku menjadi sempurna, sedikit demi sedikit kamu juga akan kehilangan lebih baikku. Aku tidak maksud  lain, Sayang. Aku hanya ingin bilang, kalau kelak aku kehilangan lebih baikku, kamu masih bersedia mengingatkanku seperti saat mengingatkanku untuk sempurna. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik. JJ