Terkadang, meratapi nasib itu perlu,
bukan? Seperti sekarang ini, yang kulakukan hanyalah meratapi nasib. Aku seperti
orang gila yang kehilangan arah dan akal sehatku. Aku sangat menyesal kenapa
dalam masa laluku aku sangat cupu dan
kuper. Gak tahu trend dan style yang
cocok untuk diri sendiri. Aku selalu mengikuti kata hati yang mungkin takpernah
sesuai dalam pandangan orang lain. Aku mengutamakan kebahagiaanku sendiri
daripada kesenangan orang lain yang memandangku. Aku cenderung melakukan semua
itu karena atas nama pengetahuan keagamaanku yang ternyata buruk di mata orang
lain. Lalu aku harus bagaimana? Aku takbisa sesempurna mereka yang bisa
memadupadankan antara trend dan kata
hati. Aku terlalu kamseupay. Aku
kuno.
Sebenarnya, sebelum kamu – orang yang
saat ini kusukai – memintaku, aku sudah berusaha berubah agar lebih baik di
matamu, tapi ternyata aku masih jadul. Kukira aku sudah sedikit pantas berjalan
di sampingmu, ternyata belum. Lalu aku harus bagaimana lagi? Seandainya aku
anak orang kaya, atau seandainya aku gadis yang hanya memikirkan style, shopping, dan foya-foya semata,
pasti kamu akan mendapatiku sebagai wanita yang sempurna di matamu. Tapi aku
tak bisa hanya sekadar seperti teman-temanku. Aku selalu ingin meraih
mimpi-mimpiku – yang lebih dari sekadar penampilan luarku – dengan uang
tabunganku sendiri. Kamera, cicin, handphone,
sepatu, buku, tabungan (walaupun masih sedikit) dan semua yang kumiliki itu
semua darimana kalau bukan dari menyisihkan uang sakuku? Hidup itu sulit, semua
butuh uang sayang! Aku bukan teman-temanmu yang sebagian besar dengan mudahnya
mendapatkan semua yang diinginkan dari orang tuanya secara cuma-cuma. Bahkan
aku harus memberikan jaminan dulu kepada orang tuaku untuk mendapatkan tambahan
uang saku.
Aku bisa saja menjadi sempurna di
matamu, tapi asal kamu tahu, Kekasihku. Kalau kamu ingin aku menjadi sempurna,
sedikit demi sedikit kamu juga akan kehilangan lebih baikku. Aku tidak maksud lain, Sayang. Aku hanya ingin bilang, kalau
kelak aku kehilangan lebih baikku, kamu masih bersedia mengingatkanku seperti
saat mengingatkanku untuk sempurna. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik. JJ
