Kata
dapat digolongkan berdasarkan ciri-cirinya. Berdasarkan maknanya kata
dapat digolongkan menjadi dua yaitu kata penuh dan kata penuh dan kata
tugas. Kata penuh adalah kata yang memiliki makna leksikal. Kata tugas
adalah kata yang tidak memiliki makna leksikal dan hanya memiliki makna
gramatikal.
Kata
penuh meliputi verba, adjektiva, adverbia, nomina, pronomina, dan
numeralia. Kata tugas meliputi preposisi, konjungtor, interjeksi,
artikula, dan partikel penegas.
Menurut
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga), kata digolongkan
menjadi verba, adjektiva, adverbia, nomina, pronomina, numeralia, dan
kata tugas.
1. Verba
Verba sering disebut juga kata kerja. Ciri-ciri verba:
a. Memiliki
fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat
walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Misalnya:
· Kakek tidur.
· Ibu tidak menulis novel.
b. Mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c. Tidak diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’. Misalnya verba mati dan suka tidak dapat menjadi *termati atau *tersuka.
d. Pada umumnya tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan seperti agak, sangat, dan sekali karena tidak ada bentuk *agak belajar, *sangat tidur, *duduk sekali meskipun ada bentuk seperti sangat berbahaya, agak membanggakan, dan mengharapkan sekali.
2. Adjektiva
Adjektiva
adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang
sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva sering
disebut juga kata keadaan. Ciri-ciri adjektiva:
a. Adjektiva memberikan makna kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Misalnya pohon tinggi, rumah besar, dan baju merah.
b. Adjektiva
dapat berfungsi sebagai predikat dan adverbial (keterangan) kalimat
yang dapat mengacu ke suatu keadaan. Misalnya: Ibu sedang sakit.
c. Adjektiva
memiliki kemungkinan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat
bandingan acuan nomina yang diterangkannya dengan menambahkah kata sangat, agak, lebih, atau paling di depan adjektiva tersebut. Misalnya: sangat besar, agak senang, lebih kecil, paling merah.
3. Adverbia
Dalam
tataran frasa, adverbia merupakan kata yang menerangkan verba,
adjektiva, atau adverbia lain. Sementara itu, dalam tataran klausa,
adverbia merupakan kata yang menerangkan fungsi-fungsi sintaksis dalam
klausa itu. Dalam tataran kalimat, adverbia menerangkan seluruh kalimat.
Adverbia sering disebut juga kata keterangan.
Contoh:
· sangat marah (menerangkan kata marah)
· Aku mau makan nasi saja. (menerangkan fungsi objek yaitu nasi)
· Anaknya sudah lima (menerangkan fungsi predikat yaitu lima)
· Tampaknya ia serius. (menerangkan kalimat)
4. Nomina
Dari segi semantisnya, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Misalnya dosen, tikus, kursi, bahasa. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri:
a. Menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap. Misalnya, ayah membelikan adik buku.
b. Dapat diingkarkan dengan kata bukan seperti bukan buku, bukan rumah, dan tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak karena tidak ada bentuk *tidak buku, *tidak rumah, dsb.
c. Umumnya diikuti adjektiva, baik secara langsung maupun diantarai kata yang. Misalnya gadis cantik, gadis yang cantik.
5. Pronomina
Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain.
Misalnya:
· Kakakku sangat rajin. Ia selalu juara kelas. (pronomina ia mengacu pada kata kakakku)
· Rumah itu mewah. Lantainya dari marmer. (pronomina -nya mengacu pada rumah)
Pronomina menduduki fungsi sintaksis yang umumnya diduduki oleh nomina seperti subjek,
objek, dan—dalam macam kalimat tertentu—juga predikat. Acuan pronomina
dapat berpindah-pindah karena bergantung kepada siapa yang menjadi
pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa
yang dibicarakan. Pronomina sering disebut juga sebagai kata ganti.
Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia yaitu:
a. Pronomina persona
Pronomina
persona disebut juga kata ganti orang atau pronomina yang dipakai untuk
mengacu pada orang, baik diri sendiri (orang pertama), orang yang
diajak bicara (orang kedua), dan orang yang dibicarakan (orang ketiga).
b. Pronomina penunjuk
Pronomina
penunjuk terdiri dari tiga macam yaitu pronomina penunjuk umum,
pronomina penunjuk tempat, dan pronomina penunjuk ihwal. Pronomina
penunjuk umum ialah ini, itu, dan anu. Pronomina penunjuk tempat ialah sini, situ, sana. Pronomina penunjuk ihwal ialah begini, begitu, dan demikian.
c. Pronomina penanya
Pronomina
penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. Dari
segi maknanya yang ditanyakan dapat mengenai orang (siapa), barang atau benda (apa), dan pilihan (mana). Sebenarnya masih ada kata penanya lain meskipun bukan pronomina yaitu kapan, bagaimana, berapa, dan mengapa.
6. Numeralia
Numeralia
adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang,
binatang, atau barang) dan konsep. Ada dua macam numeralia dalam bahasa
Indonesia yaitu numeralia pokok/kardinal yang dapat memberi jawab atas
pertanyaan “Berapa?” seperti satu, dua, seratus, sejuta, dsb., dan
numeralia tingkat/ordinal yang dapat memberi jawab atas pertanyaan “Yang
keberapa?” seperti ketiga, kelima puluh, keseribu, dsb.
7. Kata Tugas
Kata
tugas merupakan kelas kata yang hanya memiliki makna gramatikal dan
tidak memiliki makna leksikal. Kata tugas baru bermakna apabila
dirangkai dengan kelas kata lain. Misalnya di rumah, aku dan kau, setelah kita makan, dll. Kata tugas tidak dapat menjadi dasar pembentukan kata lain. Misalnya, nomina tani dapat diturunkan menjadi kata bertani, petani, pertanian, dsb. Namun kata tugas dari tidak dapat menjadi *mendarikan (me[N]-kan + dari), *pendari (pe[N]- + dari), dsb.
Kata tugas dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi lima berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat.
a. Preposisi
Preposisi
atau kata depan menandai hubungan makna antara konstituen di depan
preposisi tersebut dengan konstituen di belakangnya. Misalnya, dalam
frasa tidur di kamar, preposisi di menyatakan hubungan makna keberadaan antara tidur dan kamar.
Menurut Prof. Drs. M. Ramlan, preposisi dalam bahasa Indonesia
berjumlah 115 kata. Contoh preposisi antara lain: di, ke, dari, kepada,
daripada, untuk, sebab, dsb.
b. Konjungtor
Konjungtor
atau kata hubung atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan
dua satuan kebahasaan yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan
frasa, atau klausa dengan klausa. Misalnya:
· aku dan kau
· kenaikan harga serta kemiskinan rakyat
· Ayah tidur tetapi ibu memasak.
· Ketika ayah tidur, ibu sedang memasak.
c. Interjeksi
Interjeksi
atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati
pembicara. Sebenarnya, tanpa interjeksi perasaan pembicara sudah dapat
diungkapkan dengan kalimat yang utuh. Namun, keberadaan interjeksi akan
memperkuat rasa hati tersebut. Misalnya untuk mengungkapkan betapa
indahnya sebuah pemandangan, orang tidak hanya akan berkata, “Indah
sekali pemandangan ini”, tetapi orang biasa menggunakan interjeksi amboi
sehingga menjadi, “Amboi, indah sekali pemandangan ini.” Dengan kata
amboi di atas orang tidak hanya mengungkapkan fakta akan keindahan
pemandangan tetapi juga rasa hatinya. Contoh interjeksi misalnya wah,
sialan, ayo, nah, dsb.
d. Artikula
Artikula
atau kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
Artikula memiliki tiga kelompok yaitu (1) yang bersifat gelar seperti
sang, sri, hang, dan dang, (2) yang mengacu ke makna kelompok seperti
para, (3) yang menominalkan seperti si dan yang.
e. Partikel penegas
Kategori
partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan
bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat
macam pertikel penegas yaitu –kah, -lah, -tah, dan pun.
Daftar Pustaka
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.