“Kita
putus.”
Jlebb.
Bukan dia yang memutuskanku. Tapi aku. Aku memutuskan cinta pertamaku. Pacar
pertamaku. Entah apa yang ada di dalam pikiranku sehingga aku bisa mengucapkan
kata yang menyakitkan itu. Mungkin tidak hanya menyakiti perasaan dia, tapi
yang pasti juga menyakiti diriku sendiri. Andri, nama kekasihku yang kandas
setelah tiga bulan menjalin hubungan ini karena tersandung restu orang tuaku.
Ayah ibuku tidak mengizinkan aku berpacaran dengan Andri, karena dia hanya lulusan SMP. Sedangkan aku mulai menyukainya sejak masih di Sekolah Dasar dan menunggu selama 11 tahun untuk cintanya. Dan kini kami putus.
“Apa? Kamu serius mengatakannya, Sinta? Kamu bercanda kan?” tanya Andri heran.
“Aku serius Andri. Aku nggak mau membohongi kedua orang tuaku seolah-olah kita nggak ada hubungan apa-apa.” Kataku.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak akan nyakitin kamu. Aku berjanji, Sayang.” Kata Andri memohon.
“Jangan berjanji sayang, aku juga sayang kamu, tapi aku lebih sayang dengan orang tuaku. Kamu tahu kan aku nggak bisa hidup tanpa mereka. Maaf.” Kataku menunduk berpamitan pergi meninggalkan deburan air pantai yang sedari tadi membelai kakiku.
Aku berjalan menahan air mata yang hampir terjatuh, meninggalkan seorang kekasih. Pasir putih yang menempel di kakiku seperti ikut merasakan kesedihanku. Sedangkan cangkang kerang di bebatuan seolah menertawakanku.
Aku menoleh ke belakang, melihat sosok yang baru saja kusakiti. Dia masih duduk memandang senja yang memerah. Entah apa yang dipikirkannya, apakah dia sedih, ataukah kecewa karenaku, aku tak tahu. Deburan ombak yang menepi itu telah membasahi hampir seluruh celananya. Senja yang seharusnya indah menjadi senja yang menyakitkan.
Hampir seminggu aku seperti orang yang gila, aku sering menyendiri di kamar, menangis. Aku berharap secepatnya melupakan segalanya. Untung aku libur sekolah, karena dua minggu yang lalu aku telah menempuh ujian Nasional. Ibuku sering menghiburku, seolah merasa ikut andil dalam kesendirianku. Aku tersenyum dan menegaskan kalau ini bukan karena ayah dan ibu.
Andri juga masih sering menghubungiku, dia memang orang yang baik, perhatian dan sopan. Dia tetap menghargaiku walaupun aku telah menyakitinya. Hal ini yang membuatku belajar di perguruan tinggi di luar kota dengan tenang. Dia tetap menjadi sahabatku.
҉҉ ҉ ҉
Semua berjalan normal kembali. Aku dengan kehidupan baruku di kota perantauan. Aku punya lebih banyak teman disini. Yogjakarta memang terkenal dengan kota pelajar. Banyak teman – temanku masa SMP dan SMA yang sekarang berjumpa lagi, salah satunya adalah Rama. Seseorang yang dulunya kuanggap biasa saja. Aku bertemu lagi dengannya untuk pertama kalinya setelah kelulusan SMP beberapa tahun silam.
Kami bertemu saat datang di pasar malam perayaan Sekaten di Jogja tepat malam tahun baru 2012 di Alun-alun Lor Kraton Jogja. Aku yang tak sengaja menyenggol seorang cowok di belakangku dan ternyata cowok itu adalah Rama, temen SMP-ku dulu yang pernah nembak aku.
“Oh maaf, Mas. Nggak sengaja.” Kataku.
“Eh iya mbak.” Kata cowok itu. “Eh mbak, mbak Sinta kan?” sambungnya heran.
“Emm, kok tau sih mas? Ya Tuhan! Rama? Rama? Gila aja lo ada disini, kuliah dimana lo?” Tanyaku beruntutan.
“Kurang banyak pertanyaan lo. Hahaha. Ya iyalah, kuliah disini lo kira gue ngamen nyampe sini.” Kata Rama disambut tawa renyah kami.
Lalu malam itu kami lewati berdua dengan menikmati suasana malam yang riuh di pasar malam itu. Kami saling bertukar nomor handphone setelah dia mengantarkanku di depan kosku. Setelah pertemuan itu kami sering hangout bareng Rama, entah itu ke pantai atau ke toko buku.
Sampai pada suatu malam waktu kami berdua main di Bukit Patuk, Rama menyatakan cintanya lagi ke aku setelah kutolak waktu SMP dulu. Tapi kali ini aku berpikir ulang tentang pernyataannya itu. Ternyata selama ini dia belum pernah pacaran dengan alasan masih menungguku.
“Gimana Sinta? Mau nggak kamu jadi kekasihku?” tanya Rama berharap.
“Emm, kok kamu mau sih nunggu aku selama ini? Emang apa coba yang kamu suka dari aku?” tanyaku balik.
“Nggak tau, udah feeling aja dari dulu kalo aku bener-bener sayang ama kamu. Aku nggak maksa kamu kok buat nerima aku. Aku tetep sayang ama kamu seperti sebelumnya.” Kata Rama menjelaskan dengan senyuman dan tatapan hangat di bawah sinar rembulan. Romantis.
“Maaf ya Ram, dulu aku sudah mengabaikanmu. Tapi aku lebih minta maaf lagi untuk kali ini. Aku juga merasakan hal yang sama, aku mencintaimu. Bahkan aku nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul.” Jujurku.
Wajah Rama yang sebelumnya terlihat kecewa langsung berubah terkejut dan bahagia. Sontak dia langsung teriak kegirangan di bawah Sintanya sinar bintang yang menggantung di langit gelap.
“Kamu serius Sinta? Nggak bercanda kan? Nggak mimpi kan?” tanyanya sambil menggenggam erat tanganku. Seakan tak ingin kehilanganku lagi.
“Iya.” Anggukku sambil melemparkan senyum lembut kepadanya.
Setelah kejadian itu, kami resmi berpacaran dengan Rama. Tidak ada yang spesial dari dirinya, tapi semua terasa istimewa saat aku bersamanya. Hubungan kami berdua baik- baik saja, bahkan semakin lama kami seakan mampu melengkapi kekurangan kami. Sampai aku mendapat kabar dari temannya Andri, kalau Andri sedang sakit parah di rumah sakit, dan dia sering menanyakanku.
Aku menceritakan kabar ini kepada Rama, meminta nasihat kepadanya. Rama pun mengizinkan aku menemui Andri dengan ditemani dia karena Rama juga berteman dengan Andri waktu SMP.
Aku pulang ke kampung halamanku di Semarang dengan ditemani Rama. Kami langsung ke rumah sakit. Disini aku melihat kondisi Andri yang terbaring tak berdaya. Tapi saat melihat aku datang, terlukis senyum menghiasi wajahnya.
Setelah menjenguk Andri, Rama langsung balik ke Jogja karena mau ujian. Sedangkan aku masih tinggal karena permintaan keluarga Andri setelah mendapat izin keluarga. Aku menemaninya, menyuapi, dan mendengarkan curahan hatinya.
“Sinta, tolong jangan tinggalin aku.” Mohon Andri dengan lemah.
“Sudahlah Andri, kamu harus berjuang dulu melawan sakitmu ini. Obatnya di minum dulu.” Kataku sambil memberikan obat dan segelas air putih.
“Bagaimana keadaanmu di Jogja? Udah dapet pacar baru?” tanya Andri setelah meminum obat terakhir di tanganku.
“Aku baik-baik saja kok. Iya, aku sudah ada kekasih baru. Maaf.” Jawabku sambil menunduk. Tidak tega melihat mata sayunya.
“Siapa? Rama-kah? Kenapa kamu ninggalin aku? Apakah sebegitu buruknya kah aku?” kata Andri dengan menerawang. Seolah melihat kilas masa lalu kami.
“Andri, jangan sedih gitu dong. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dan lebih mencintaimu. Jangan terjebak dengan masa lalu kita. Aku tidak akan berubah kok. Aku akan tetap menemanimu, seperti saat ini.” kataku dengan tersenyum, berusaha menguatkannya.
“Tapi aku ingin kamu menemaniku setiap saat, sampai kapanpun.”
“Tapi Andri, aku tidak bisa. Aku...”
Tokk..tok..tookk..
“Assalamu’alaikum..” Salam seseorang di luar pintu kamar itu menghentikan ucapanku yang belum kuselesaikan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah” sahut kami berdua.
Ternyata yang datang ibu dan kakak perempuan Andri.
“Nak Sinta, kamu pulang dulu ya. Sudah malam, kamu kan harus istirahat. Kamu kan juga harus menjaga kesehatan dirimu juga. Terima kasih ya Nak, sudah mau merawat Andri.” Kata ibunya Andri dengan lembut.
“Iya Bu, kalau gitu saya pulang dulu sebelum kemalaman.” Kataku.
“Andri, kamu harus sembuh ya. Ingat, banyak yang sayang sama kamu. Besok aku harus melihatmu lebih baik lagi.” Kataku tersenyum, menyembunyikan air mata yang menggantung sambil membelai lembut rambutnya.
“Iya, besok kamu harus datang. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Kata Andri
Setelah berpamitan dengan keluarga Andri dan juga Andri, aku berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi.
Setibanya di rumah, aku dikejutan oleh sosok kekasih yang sudah tiga hari tak kujumpai. Rama. Dia sudah menunggu di teras rumah ditemani kedua orang tuaku.
“Assalamualaikum..” sapaku dengan senyum yang mengembang.
“Wa’alaikumsalam..” jawab semua orang.
“Nah itu, Sinta sudah pulang. Nih Mas Rama ditemani dulu.” Kata ibuku, lalu meninggalkan kami berdua.
“Hai, kapan kesini? Kenapa nggak kasih kabar sebelumnya?” tanyaku memberondong.
“Nggak suka ya aku dateng? Barusan aja sejam yang lalu sampai sini. Kamu kok baru pulang?” tanya Rama balik.
“Iya, tadi harus nemenin Andri dulu sampai keluarganya datang.” Jelasku.
Lalu kami mengobrol tentang kejadian yang kami alami berdua, sampai aku menceritakan juga tentang permintaan Andri yang mengajakku balikan.
“Kamu balikan sama Andri?” tanya Rama.
“Ya tidaklah. Aku tidak akan mempermainkan hati seseorang kalau aku sudah memilikimu.” Kataku menatap lekat mata Rama.
“Iya aku percaya sama kamu. Tapi bukankah kamu masih menyayanginya?” kata Rama.
“Iya, aku sayang sama dia sekadar menjadi sahabatku, sayang.”
“Terserah kamu, yang pasti aku sudah percaya sama kamu. Tolong jaga kepercayaanku ya, sayang.” Kata Rama.
“Iya, sayang.” Jawabku meyakinkan.
“Ya sudah aku pulang dulu ya, udah malem. Kamu istirahat dulu, pasti capek kan?”
“Iya, kamu hati-hati ya. Jangan lupa berdoa dulu.” Kataku.
“Besok temenin aku pergi ya, nyari buku kuliah.” Ajak Rama.
“Maaf, aku udah janji akan menemani Andri.” Jawabku menyesal.
“Oh gitu ya, ya udah aku pulang dulu. Assalamualaikum!” jawab Rama dengan raut kecewa dan langsung pergi tanpa menengok lagi.
“Maafkan aku Rama, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku cuma ingin menguatkan Andri supaya cepat sembuh. Aku tetap mencintaimu, sayang.” Kataku menyesal seorang diri.
҉҉ ҉҉҉ ҉
Pagi buta aku sudah bangun untuk menjalankan salat subuh. Aku menikmati udara pagi yang sejuk. Kulihat embun menggantung di ujung dedaunan, seakan enggan meninggalkan keindahan pagi. Beberapa kuncup bunga terlihat kedinginan belum siap menebar kecantikannya pada kumbang. Begitu pula aku yang tak ingin berpisah dengan dua orang yang kusayangi, cintaku dan sahabatku.
Aku ingat kembali dengan Andri yang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Aku memang sudah tak ada rasa cinta dengannya, tapi setidaknya dia juga pernah mengisi hari-hariku dengan cinta dan kebahagiaan. Dia salah satu orang yang berarti juga bagiku. Sedangkan Rama, orang yang selalu sabar menghadapiku. Dialah kekasihku, kakakku, dan juga sahabatku. Dan dia yang sudah mengambil perhatian dan cintaku. Aku benar-benar mencintainya.
Lamunanku pun buyar karena aku harus bergegas menemani Andri seharian. Pukul sembilan pagi aku sudah sampai di ruangan beraroma obat itu. Senyumku mengembang saat kulihat sosok Andri sudah segar kembali. Hanya saja warna pucat di wajahnya yang tidak bisa disembunyikan. Aku sudah bersyukur karena dia 80 persen terlihat lebih baik dari sebelumnya.
“Hai Andri, kau terlihat lebih tampan. Alhamdulillah ya Rabbi.” Syukurku.
“Aku lebih baik karena aku ingin menghabiskan hari ini untukmu, Sinta.” Kata Andri tersenyum simpul.
“Jangan bicara gitu, kita masih bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi, tidak hanya hari ini.” kataku sebal.
“Aku cuma berjaga saja, aku juga ingin selamanya bersama kamu.”
“Andriii..” aku berusaha mengingatkannya kalau aku sudah ada yang punya.
Kami menghabiskan enam jam untuk berjalan-jalan dan bergurau dengan anak-anak yang sakit. Tepat pukul tiga sore, Andri mengajakku ke pantai Maron. Kami kesini diantarkan teman Andri dengan mobil. Walaupun perjuangan kesini cukup sulit, tapi setibanya disini semua kegundahan bisa terobati.
Angin pantai yang membelai lembut di pipi dan ombak kecil yang seakan mengajak bermain kejar-kejaran ini membuatku lupa kalau mantanku dan juga sahabatku ini sedang berjuang melawan penyakitnya.
Kita menghabiskan waktu sekadar bercerita tentang kehidupan kami dan juga rencana untuk masa depan. Andri banyak diam dan hanya mendengarkan dengan senyum manis ketika aku bercerita tentang rencanaku untuk masa depan.
“Aku ingin melihatmu bahagia dan menikah dengan pilihanmu, walaupun aku ingin menjadi pilihanmu.” Kata Andri sambil menatap hamparan laut yang maha luas di depan mata.
“Kamu pasti akan melihatnya, Kawan. Dan aku juga akan melihatmu bahagia dengan pilihanmu kelak.” Kataku memastikan.
“Lihatlah aku!” Kata Andri sambil memalingkan wajahnya tepat di depan wajahku dengan senyum khasnya. “Aku sangat bahagia menghabiskan sore ini denganmu. Ini adalah kenangan yang paling indah dalam hidupku.” Sambungnya.
“Andri, jangan begitu. Kamu harus bisa mengukir kenangan manis lagi di masa depan.” Ucapku meyakinkan.
“Iya aku akan berusaha. Eh, lihat senja merah itu. Indah ya, seperti kamu. Andai aku bisa, aku akan pergi kesana melukiskan wajah indahmu di cakrawala. Aku ingin kesana biar aku bisa selamanya melihatmu dari sana.” Kata Andri seperti anak kecil yang sedang berandai-andai.
“Andri, aku disini. Tak perlu kau pergi sejauh itu.” Kataku sedih.
“Aku cuma berharap, Sinta.”
“Sudah gelap Andri. Ayo kita pulang.” Kataku sambil mengeluarkan handphone dan menghubungi Raka untuk menjemput kami.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung pulang diantarkan Raka. Di rumah, pukul sembilan malam, aku terkejut mendengar kabar dari Raka. Sakit, takut, marah, dan aku tak tahu lagi apa yang aku rasakan. Aku ingin marah, tapi tak tahu harus marah dengan siapa. Iya, Andri seseorang yang dulu kucinta, sekarang telah pergi bersama senja merah yang di telan gelapnya malam.
Aku memberitahukan kabar ini kepada keluargaku dan kekasihku, Rama. Mereka semua terkejut, tak hanya aku. Bahkan Rama langsung pergi ke Semarang untuk menemaniku. Malam ini terlalu pekat, tak ada bintang dan rembulan. Seakan mendung sedih menutupi kebahagiaan dunia. Suara tangis tak rela mengisi ruang yang selama lima hari menjadi tempat kebersamaanku dengan Andri.
Wajah tampan dan senyum manis itu masih tersisa di wajah kakunya. Aku melihat kebahagiaan karena takkan lama lagi keinginannya untuk tinggal di senja merah akan terkabulkan. Malam ini menjadi semakin panjang. Aku tidak ingin ditinggalkan seorang sahabat dan mantan terindahku itu.
Sang Surya seakan merasakan kepedihan hati yang ditinggalkan seseorang yang berarti. Mendung pun menggantung menahan air mata duka. Bahkan rintik gerimis pun mengantarkan jenasah Andri yang akan bertemu dengan Tuhan. Rama yang sedari tadi berusaha menguatkanku menerima kenyataan yang ada.
“Sudahlah sayang, jangan bersedih lagi. Andri pasti juga ikut sedih kalau melihatmu berduka sepanjang hari.” Kata Rama.
“Iya sayang, aku tidak menyangka, kemaren adalah hari terakhirku bergurau dengannya.” Isakku.
“Ikhlaskan saja dan berdoalah semoga dia ditempatkan di sisi Tuhan yang paling indah.”
“Aamiin ya Allah.” Tangisku di pelukan Rama.
҉҉ ҉҉҉ ҉
Hari ini tepat sebulan Andri pergi meninggalkan kami. Aku pun sudah kembali ke Yogjakarta. Sore ini aku pergi ke pantai Indrayanti dengan Rama. Aku melihat secercah senja merah manis tersenyum di ufuk barat. Aku melihat Andri tersenyum manis mengawasi kami di balik cakrawala. Dia telah bahagia di singgasana barunya. Dia telah menepati janjinya kepadaku, akan melukiskan senja yang indah untukku. Kami merindukannya. Kami menyayanginya dan akan selalu mendoakannya agar selalu melukiskan senja manis setiap hari.
END