Terkadang, dalam
suatu hubungan pasti ada saja yang dipermasalahkan. Mungkin itu tentang perbedaan agama, prinsip, status, ataupun
kepercayaan. Entah aku masuk ke dalam permasalahan itu atau tidak, tapi yang
kutahu, yang kumiliki saat ini hanyalah anugerah. Kukatakan “anugerah” karena dialah yang sepertinya
mampu menyeimbangi sikapku yang masih kekanakan ini. Dia yang selalu
memahamiku, bahkan sering mengiyakan keinginanku yang mungkin takkan mungkin
kudapatkan. Tapi, dia juga yang mungkin sulit memercayaiku. Itu semua karena
aku yang dulu suka berbohong, tapi tak bolehkah aku berubah menjadi seorang yang
jujur saat aku bersamamu?
“Aku merindukanmu”, itu
bukanlah bualan semata, percayalah. Apa pernah aku mengucap rindu dengan tulus
kepada lelaki lain selain kamu? Yang kuingat aku tak pernah mengumbar rindu dan
cinta selain padamu dan keluargaku. Seharusnya kamu percaya itu. Kalau kamu tak
memercayaiku, lalu siapa yang mampu menguatkanku untuk memercayaiku di sini?
‘Kamu diam, aku takut’. Entahlah,
mengapa bisa begitu ya? Kamu terdiam, dingin, tanpa candaan, tanpa senyuman,
adalah hal yang membuatku takut padamu. Marahi aku, caci aku, bahkan pergi saja
dariku kalau kamu memang bosan dan tak ingin di dekatku lagi, daripada kamu menakutkan
dan beku seperti itu. Mendiamkanku sama saja kamu menusuk jantungku
pelan-pelan; sakit.
Katakanlah apa
yang membuatmu seperti itu. Kalau kamu sibuk, aku akan memberikan waktu untuk
menyelesaikan kesibukanmu. Marah? Akan kuberikan waktu sampai kemarahanmu
mereda. Capek? Aku tak akan meminta waktumu agar kamu bisa beristirahat total.
Maafkan aku
yang selalu merepotkanmu, menyebalkanmu, mengganggu pikiranmu, dan meminta
waktumu untuk hal-hal yang tak begitu penting. Tapi percayalah, Aku
merindukanmu. Sungguh. T_T


