Malam yang melelahkan; lelah karena rindu
dan selalu menunggu. Malam yang memburu untuk secepatnya menjelma pagi. Malam yang
terlalu perih untuk kujadikan penghujung bulan ini.
Aku tak tahu permasalahan apa yang kamu;
kita hadapi. Serasa ada badai kencang di pertengahan malam yang cerah ini,
tiba-tiba kau tanyakan kepastian hubungan kita. Kau kenapa? Kau tak pernah
seperti ini sebelumnya. Kau tak pernah bicara padaku layaknya kau bicara pada
teman terjauhmu. Kau tak pernah dengan nada santai bertanya lewat socmed, “Dari
kemaren kita nggak jelas, menurutmu ita udahan atau gimana?” Lalu apa yang
harus kupikirkan? Apa yang harus kujawab saat aku merasa tidak ada sesuatu yang
salah dari hubungan ini sebelumnya?
Aku tak tau bagaimana perasaanmu saat ini,
kecewakah? Bosankah? Atau memang kau sudah ada pengganti yang lebih baik dari
aku? Jujur, poin terakhirlah yang menguasai seluruh pikiranku. Kamu jauh
dariku, sudah bekerja, sudah memiliki pola pikir yang berbeda dariku karena aku
memang masih berpikir seperti anak-anak. Lalu kenapaa?
Aku selalu berpikir positif setiap aku
merindukanmu. Sungguh. Aku selalu beranggapan kalau waktu yang tak pernah
berpihak padaku adalah semata-mata ujian dari Tuhan untuk hubungan kita. aku
berpikir, ‘mungkin kamu sudah lelah denganku karena aku selalu menuntutmu?’
Lalu apa yang selalu kutuntut darimu? Setahuku aku bukan tipe pasangan yang
selalu menuntut pasangannya untuk menjadi Romeo ataupun Superman. Aku tak
pernah menuntutmu untuk selalu ada bersamaku, walaupun sudah berbulan-bulan
kita tak bertemu. Aku tak pernah menuntutmu untuk menemaniku untuk menghabiskan
malam minggu, meskipun satu bulan sekali. Aku tak pernah menuntutmu untuk harus
menelponku di saat aku dalam keterpurukan. Lalu apa dosaku?
Sebenarnya, Kasih, di penghujung bulan ini
aku ingin bercerita banyaakk mengenai suka dukaku selama empat hari terakhir
ini. Aku memang tak pernah punya waktu untuk bercerita denganmu. Tak hanya
kamu, bahkan aku juga tak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku melupakan
makan, mandi, dan bahkan aku lupa bahwa aku sebenarnya sangat butuh dukungan
penuh dari orang terkasih. Kamu tau, Kasih?
Semenjak hari Senin, aku selalu menghabiskan seluruh waktu mentariku
menunggu di ruang jurusan. Kamu tau,disana aku tak hanya sekadar menunggu, tapi
juga berjuang, dimarahi dosen, dip hp dosen dan TU, bahkan sampai dihujat kakak
tingkat, karena aku ingin memberikan kejutan untukmu dan orang tuaku. Aku ingin
menunjukkan kepada orang tuaku, kalau dengan berpasangan denganmu aku tak akan
kehilangan prestasiku. Aku ingin menunjukkan kepada Ibuku bahwa denganmu, aku
bisa mematahkan kepercayaan bahwa mahasiswa Bahasa akan lulus lama. Aku ingin
membuktikan pada Ayahku, bahwa kamulah yang bisa membimbingku untuk sukses
bersama di kemudian hari. Tapi kamu salah tentangku.
Memang benar kalau kamu berpikir, aku
selalu tenggelam dengan urusanku sendiri. Kamu tak salah karena aku jarang
menghubungimu. Tapi kamu bekerja, aku hanya akan menghubungimu saat pagi dan
malam hari saja. Itu semua karena aku tak ingin mengganggu konsentrasimu. Maka dari
itu, daripada aku berdiam diri di kos, lebih baik aku menggunakan waktuku
seharian menunggu keputusan dosen untuk masa depanku; masa depan kita juga. Aku
berharap aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu bekerja, aku berangkat
ke kampus. Kamu pulang kerja, aku juga pulang dari kampus dan saling melepas
rindu, walau hanya lewat BBM. Tapi yang ada malah kesalahpahaman antara kita.
Aku maklum, Sayang. Jarak kita memang
sudah puluhan kilometer terlampau jauuhh.
Kita juga sudah terlalu lama tak bertemu dan melebur rindu. Tapi aku selalu berusaha
berpikiran positif bahwa inilah jalan kita untuk bisa dipersatukan di kemudian
hari. Inilah waktu yang diberikan Tuhan untuk saling menyimpan rindu yang akan
dilebur di masa depan bersama-sama. Inilah waktu untuk kita saling melihat dan
mengenal masing-masing dari kita dari kejauhan. Aku menganggap semua itu bonus
yang diberikan Tuhan untuk hubungan kita, Sayang. Tapi aku tak tahu, bagaimana
yang ada di dalam pikiranmu. Maaf, aku selalu mengecewakanmu. Maaf, aku selalu
mengabaikanmu. Dan maaf, aku sudah memercayaimu dan memilih bertahan denganmu.
LLLLL







.jpg)
