Malam
ini begitu menyebalkan. Bukan karena apa-apa, tapi karena hatiku sendiri yang
sedang dikuasai sifat buruk manusia. Tapi ini juga termasuk hal yang berkaitan
dengan kamu, Sayang.
Entahlah,
Sayang. Mungkin aku yang terlalu cinta dan berharap lebih tentangmu, atau
mungkin kamu yang kurang peka terhadapku. Sayang, bukannya aku berpikiran ingin
perhitungan atau matre. Bukan itu maksudku kali ini, Sayang. Tapi, mungkin aku
yang..... ahh..... entahlah. Sayang, sejujurnya aku ingin seperti
teman-temanku. Aku ingin seperti mereka yang memiliki pasangan yang menelpon
tiap malam sebelum tidur. Tidak.. tidak, tak perlu tiap malam bagiku,
setidaknya sekali atau dua kali dalam seminggu itu sudah lebih dari cukup
bagiku. Aku ingin kamu yang menelponku tanpa aku yang ngodein. Semua ini bukan
karena aku tak sanggup menelponmu lagi, bukan Sayang. Tapi karena aku ingin
sesekali kamu yang memulai, bukan aku. Aku selalu mempertaruhkan harga diriku
setiap kali aku menelponmu duluan. Sebenarnya aku tak pernah melupakan nasihat
ibuku untuk jangan menjadi wanita murahan yang kerap kali menelpon prianya. Tapi
ternyata tanpa kusadari mungkin aku telah menjadi wanita yang sangat murahan
karena sering menelponmu duluan karena “merindukanmu”. Dan aku benci pada
diriku sendiri karena tak pernah bisa menahan untuk tidak menelponmu. Untuk berusaha
tidak menelponmu duluan selama seminggu itu sulit, Sayang. Aku sering lupa
memaketkan telponku untuk menelponmu, dan saat aku sadar, aku akan membiarkan
paketanku sia-sia, semua ini bukan karena kamu, tapi karena aku sendiri. Mungkin
semua ini karena aku yang terlalu berharap merindukanmu, atau mungkin aku yang
sudah kehilangan urat maluku. Atau mungkin juga kamu yang tak pernah
merindukanku seperti aku merindukanmu. Semoga semua ini karena kamu yang
terlalu sibuk sehingga tak sempat menelponku, sedangkan aku yang selalu
memiliki waktu luang terlalu banyak untuk merindukanmu.
Sayang,
kalau aku tega, aku akan mencari sosok lain yang mampu mengajakku berdebat
secara langsung, bercanda secara nyata, dan berbagi cerita walau hanya lewat
suara. Aku terlalu lelah untuk bercerita lewat ketikan singkat di BBM, belum lagi karena hape-ku yang
selalu lemot dan pending-an. Aku tak pernah keberatan dengan hubungan jauh ini, tapi
jangan biarkan perasaanku merasa kita terlalu jauh lagi karena jarang
mendengarkan suaramu. Jangan biarkan aku merasa sendirian, Sayang. Pernahkah kau
tahu hal itu. Aku merasa kesepian. LL
