Sepotong
Senja dari Sang Mantan
Nur Indah Sholikhati
“Kita putus.”
Jlebb! Bukan dia yang memutuskanku. Tapi
aku. Aku memutuskan cinta pertamaku. Pacar pertamaku. Entah apa yang ada di
dalam pikiranku sehingga aku bisa mengucapkan kata yang menyakitkan itu.
Mungkin tidak hanya menyakiti perasaan dia, tapi yang pasti juga menyakiti
diriku sendiri. Andri, nama kekasihku yang kandas setelah tiga bulan menjalin
hubungan ini karena tersandung restu orang tuaku.
Ayah ibuku tidak mengizinkan aku
berpacaran dengan Andri, karena dia hanya lulusan SMP. Sedangkan aku mulai
menyukainya sejak masih di Sekolah Dasar dan menunggu selama 11 tahun untuk
cintanya. Dan kini kami putus.
“Apa? Kamu serius mengatakannya, Sinta?
Kamu bercanda kan?” tanya Andri heran.
“Aku serius Andri. Aku nggak mau
membohongi kedua orang tuaku seolah-olah kita nggak ada hubungan apa-apa.”
Kataku.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu. Aku
nggak akan nyakitin kamu. Aku berjanji, Sayang.” Kata Andri memohon.
“Jangan berjanji sayang, aku juga sayang
kamu, tapi aku lebih sayang dengan orang tuaku. Kamu tahu kan aku nggak bisa
hidup tanpa mereka. Maaf.” Kataku menunduk berpamitan pergi meninggalkan
deburan air pantai yang sedari tadi membelai kakiku.
Aku berjalan menahan air mata yang hampir
terjatuh, meninggalkan seorang kekasih. Pasir putih yang menempel di kakiku
seperti ikut merasakan kesedihanku. Sedangkan cangkang kerang di bebatuan
seolah menertawakanku.
Aku menoleh ke belakang, melihat sosok
yang baru saja kusakiti. Dia masih duduk memandang senja yang memerah. Entah
apa yang dipikirkannya, apakah dia sedih, ataukah kecewa karenaku, aku tak
tahu. Deburan ombak yang menepi itu telah membasahi hampir seluruh celananya.
Senja yang seharusnya indah menjadi senja yang menyakitkan.
Hampir seminggu aku seperti orang yang
gila, aku sering menyendiri di kamar, menangis. Aku berharap secepatnya
melupakan segalanya. Untung aku libur sekolah, karena dua minggu yang lalu aku
telah menempuh ujian Nasional. Ibuku sering menghiburku, seolah merasa ikut
Andril dalam kesendirianku. Aku tersenyum dan menegaskan kalau ini bukan karena
ayah dan ibu.
Andri juga masih sering menghubungiku,
dia memang orang yang baik, perhatian dan sopan. Dia tetap menghargaiku
walaupun aku telah menyakitinya. Hal ini yang membuatku belajar di perguruan
tinggi di luar kota dengan tenang. Dia tetap menjadi sahabatku.
҉҉
҉ ҉
Semua berjalan normal kembali. Aku
dengan kehidupan baruku di kota perantauan. Aku punya lebih banyak teman di sini.
Yogjakarta memang terkenal dengan kota pelajar. Banyak teman – temanku masa SMP
dan SMA yang sekarang berjumpa lagi, salah satunya adalah Rama. Seseorang yang
dulunya kuanggap biasa saja. Aku bertemu lagi dengannya untuk pertama kalinya
setelah kelulusan SMP beberapa tahun silam.
Kami bertemu saat datang di pasar malam
perayaan Sekaten di Jogja tepat malam tahun baru 2012 di Alun-alun Lor Kraton
Jogja. Aku yang tak sengaja menyenggol seorang cowok di belakangku dan ternyata
cowok itu adalah Rama, temen SMP-ku dulu yang pernah nembak aku.
“Oh maaf, Mas. Nggak sengaja.” Kataku.
“Eh iya mbak.” Kata cowok itu. “Eh mbak,
mbak Sinta kan?” sambungnya heran.
“Emm, kok tau sih mas? Ya Tuhan! Rama?
Rama? Gila aja lo ada di sini, kuliah dimana lo?” Tanyaku beruntutan.
“Kurang banyak pertanyaan lo. Hahaha. Ya
iyalah, kuliah di sini lo kira gue ngamen nyampe sini.” Kata Rama disambut tawa
renyah kami.
Lalu malam itu kami lewati berdua dengan
menikmati suasana malam yang riuh di pasar malam itu. Kami saling bertukar
nomor handphone setelah dia mengantarkanku di depan kosku. Setelah pertemuan
itu kami sering hangout bareng Rama, entah itu ke pantai atau ke toko buku.
Sampai pada suatu malam waktu kami berdua
main di Bukit Patuk, Rama menyatakan cintanya lagi ke aku setelah kutolak waktu
SMP dulu. Tapi kali ini aku berpikir ulang tentang pernyataannya itu. Ternyata
selama ini dia belum pernah pacaran dengan alasan masih menungguku.
“Gimana Sinta? Mau nggak kamu jadi
kekasihku?” tanya Rama berharap.
“Emm, kok kamu mau sih nunggu aku selama
ini? Emang apa coba yang kamu suka dari aku?” tanyaku balik.
“Nggak tau, udah feeling aja dari dulu
kalo aku bener-bener sayang ama kamu. Aku nggak maksa kamu kok buat nerima aku.
Aku tetep sayang ama kamu seperti sebelumnya.” Kata Rama menjelaskan dengan
senyuman dan tatapan hangat di bawah sinar rembulan. Romantis.
“Maaf ya, Ram, dulu aku sudah
mengabaikanmu. Tapi aku lebih minta maaf lagi untuk kali ini. Aku juga
merasakan hal yang sama, aku mencintaimu. Bahkan aku nggak tau sejak kapan
perasaan ini muncul.” Jujurku.
Wajah Rama yang sebelumnya terlihat
kecewa langsung berubah terkejut dan bahagia. Sontak dia langsung teriak
kegirangan di bawah Sintanya sinar bintang yang menggantung di langit gelap.
“Kamu serius, Sin? Nggak bercanda kan?
Nggak mimpi kan?” tanyanya sambil menggenggam erat tanganku. Seakan tak ingin
kehilanganku lagi.
“Iya.” Anggukku sambil melemparkan senyum
lembut kepadanya.
Setelah kejadian itu, kami resmi
berpacaran dengan Rama. Tidak ada yang spesial dari dirinya, tapi semua terasa
istimewa saat aku bersamanya. Hubungan kami berdua baik- baik saja, bahkan
semakin lama kami seakan mampu melengkapi kekurangan kami. Sampai aku mendapat
kabar dari temannya Andri, kalau Andri sedang sakit parah di rumah sakit, dan
dia sering menanyakanku.
Aku menceritakan kabar ini kepada Rama,
meminta nasihat kepadanya. Rama pun mengizinkan aku menemui Andri dengan
ditemani dia karena Rama juga berteman dengan Andri waktu SMP.
Aku pulang ke kampung halamanku di
Semarang dengan ditemani Rama. Kami langsung ke rumah sakit. Di sini aku
melihat kondisi Andri yang terbaring tak berdaya. Tapi saat melihat aku datang,
terlukis senyum menghiasi wajahnya.
Setelah menjenguk Andri, Rama langsung
balik ke Jogja karena mau ujian. Sedangkan aku masih tinggal karena permintaan
keluarga Andri setelah mendapat izin keluarga. Aku menemaninya, menyuapi, dan
mendengarkan curahan hatinya.
“Sinta, tolong jangan tinggalin aku.”
Mohon Andri dengan lemah.
“Sudahlah Andri, kamu harus berjuang dulu
melawan sakitmu ini. Obatnya di minum dulu.” Kataku sambil memberikan obat dan
segelas air putih.
“Bagaimana keadaanmu di Jogja? Udah dapet
pacar baru?” tanya Andri setelah meminum obat terakhir di tanganku.
“Aku baik-baik saja kok. Iya, aku sudah
ada kekasih baru. Maaf.” Jawabku sambil menunduk. Tidak tega melihat mata
sayunya.
“Siapa? Rama-kah? Kenapa kamu ninggalin
aku? Apakah sebegitu buruknya kah aku?” kata Andri dengan menerawang. Seolah
melihat kilas masa lalu kami.
“Andri, jangan sedih gitu dong. Masih
banyak wanita di luar sana yang lebih baik dan lebih mencintaimu. Jangan
terjebak dengan masa lalu kita. Aku tidak akan berubah kok. Aku akan tetap
menemanimu, seperti saat ini.” kataku dengan tersenyum, berusaha menguatkannya.
“Tapi aku ingin kamu menemaniku setiap
saat, sampai kapanpun.”
“Tapi Andri, aku tidak bisa. Aku...”
Tokk..tok..tookk..
“Assalamu’alaikum..” Salam seseorang di
luar pintu kamar itu menghentikan ucapanku yang belum kuselesaikan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah” sahut
kami berdua.
Ternyata yang datang ibu dan kakak
perempuan Andri.
“Nak Sinta, kamu pulang dulu ya. Sudah
malam, kamu kan harus istirahat. Kamu kan juga harus menjaga kesehatan dirimu
juga. Terima kasih ya Nak, sudah mau merawat Andri.” Kata ibunya Andri dengan
lembut.
“Iya Bu, kalau gitu saya pulang dulu
sebelum kemalaman.” Kataku.
“Andri, kamu harus sembuh ya. Ingat,
banyak yang sayang sama kamu. Besok aku harus melihatmu lebih baik lagi.”
Kataku tersenyum, menyembunyikan air mata yang menggantung sambil membelai
lembut rambutnya.
“Iya, besok kamu harus datang. Aku ingin
mengajakmu ke suatu tempat.” Kata Andri
Setelah berpamitan dengan keluarga Andri
dan juga Andri, aku berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi.
Setibanya di rumah, aku dikejutan oleh
sosok kekasih yang sudah tiga hari tak kujumpai. Rama. Dia sudah menunggu di
teras rumah ditemani kedua orang tuaku.
“Assalamualaikum..” sapaku dengan senyum
yang mengembang.
“Wa’alaikumsalam..” jawab semua orang.
“Nah itu, Sinta sudah pulang. Nih Mas
Rama ditemani dulu.” Kata ibuku, lalu meninggalkan kami berdua.
“Hai, kapan kesini? Kenapa nggak kasih
kabar sebelumnya?” tanyaku memberondong.
“Nggak suka ya aku dateng? Barusan aja
sejam yang lalu sampai sini. Kamu ko baru pulang?” tanya Rama balik.
“Iya, tadi harus nemenin Andri dulu
sampai keluarganya datang.” Jelasku.
Lalu kami mengobrol tentang kejadian yang
kami alami berdua, sampai aku menceritakan juga tentang permintaan Andri yang
mengajakku balikan.
“Kamu balikan sama Andri?” tanya Rama.
“Ya tidaklah. Aku tidak akan
mempermainkan hati seseorang kalau aku sudah memilikimu.” Kataku menatap lekat
mata Rama.
“Iya aku percaya sama kamu. Tapi bukankah
kamu masih menyayanginya?” kata Rama.
“Iya, aku sayang sama dia sekadar menjadi
sahabatku, sayang.”
“Terserah kamu, yang pasti aku sudah
percaya sama kamu. Tolong jaga kepercayaanku ya, sayang.” Kata Rama.
“Iya, sayang.” Jawabku meyakinkan.
“Ya sudah aku pulang dulu ya, udah malem.
Kamu istirahat dulu, pasti capek kan?”
“Iya, kamu hati-hati ya. Jangan lupa
berdoa dulu.” Kataku.
“Besok temenin aku pergi ya, nyari buku
kuliah.” Ajak Rama.
“Maaf, aku udah janji akan menemani
Andri.” Jawabku menyesal.
“Oh gitu ya, ya udah aku pulang dulu.
Assalamualaikum!” jawab Rama dengan raut kecewa dan langsung pergi tanpa
menengok lagi.
“Maafkan aku Rama, aku tidak bermaksud
menyakitimu. Aku cuma ingin menguatkan Andri supaya cepat sembuh. Aku tetap
mencintaimu, sayang.” Kataku menyesal seorang diri.
҉҉
҉҉҉ ҉
Pagi buta aku sudah bangun untuk
menjalankan salat subuh. Aku menikmati udara pagi yang sejuk. Kulihat embun
menggantung di ujung dedaunan, seakan enggan meninggalkan keindahan pagi.
Beberapa kuncup bunga terlihat kedinginan belum siap menebar kecantikannya pada
kumbang. Begitu pula aku yang tak ingin berpisah dengan dua orang yang
kusayangi, cintaku dan sahabatku.
Aku ingat kembali dengan Andri yang
terbaring tak berdaya di rumah sakit. Aku memang sudah tak ada rasa cinta
dengannya, tapi setidaknya dia juga pernah mengisi hari-hariku dengan cinta dan
kebahagiaan. Dia salah satu orang yang berarti juga bagiku. Sedangkan Rama,
orang yang selalu sabar menghadapiku. Dialah kekasihku, kakakku, dan juga
sahabatku. Dan dia yang sudah mengambil perhatian dan cintaku. Aku benar-benar
mencintainya.
Lamunanku pun buyar karena aku harus
bergegas menemani Andri seharian. Pukul sembilan pagi aku sudah sampai di
ruangan beraroma obat itu. Senyumku mengembang saat kulihat sosok Andri sudah
segar kembali. Hanya saja warna pucat di wajahnya yang tidak bisa disembunyikan.
Aku sudah bersyukur karena dia 80 persen terlihat lebih baik dari sebelumnya.
“Hai Andri, kau terlihat lebih tampan.
Alhamdulillah ya Rabbi.” Syukurku.
“Aku lebih baik karena aku ingin
menghabiskan hari ini untukmu, Sinta.” Kata Andri tersenyum simpul.
“Jangan bicara gitu, kita masih bisa
menghabiskan waktu lebih lama lagi, tidak hanya hari ini.” kataku sebal.
“Aku cuma berjaga saja, aku juga ingin
selamanya bersama kamu.”
“Andriii..” aku berusaha mengingatkannya
kalau aku sudah ada yang punya.
Kami menghabiskan enam jam untuk
berjalan-jalan dan bergurau dengan anak-anak yang sakit. Tepat pukul tiga sore,
Andri mengajakku ke pantai Maron. Kami kesini diantarkan teman Andri dengan
mobil. Walaupun perjuangan kesini cukup sulit, tapi setibanya di sini semua
kegundahan bisa terobati.
Angin pantai yang membelai lembut di pipi
dan ombak kecil yang seakan mengajak bermain kejar-kejaran ini membuatku lupa
kalau mantanku dan juga sahabatku ini sedang berjuang melawan penyakitnya.
Kita menghabiskan waktu sekadar bercerita
tentang kehidupan kami dan juga rencana untuk masa depan. Andri banyak diam dan
hanya mendengarkan dengan senyum manis ketika aku bercerita tentang rencanaku
untuk masa depan.
“Aku ingin melihatmu bahagia dan menikah
dengan pilihanmu, walaupun aku ingin menjadi pilihanmu.” Kata Andri sambil
menatap hamparan laut yang maha luas di depan mata.
“Kamu pasti akan melihatnya, Kawan. Dan
aku juga akan melihatmu bahagia dengan pilihanmu kelak.” Kataku memastikan.
“Lihatlah aku!” Kata Andri sambil
memalingkan wajahnya tepat di depan wajahku dengan senyum khasnya. “Aku sangat
bahagia menghabiskan sore ini denganmu. Ini adalah kenangan yang paling indah
dalam hidupku.” Sambungnya.
“Andri, jangan begitu. Kamu harus bisa
mengukir kenangan manis lagi di masa depan.” Ucapku meyakinkan.
“Iya aku akan berusaha. Eh, lihat senja
merah itu. Indah ya, seperti kamu. Andai aku bisa, aku akan pergi kesana
melukiskan wajah indahmu di cakrawala. Aku ingin kesana biar aku bisa selamanya
melihatmu dari sana.” Kata Andri seperti anak kecil yang sedang berandai-andai.
“Andri, aku di sini. Tak perlu kau pergi
sejauh itu.” Kataku sedih.
“Aku cuma berharap, Sinta.”
“Sudah gelap Andri. Ayo kita pulang.”
Kataku sambil mengeluarkan handphone dan menghubungi Raka untuk menjemput kami.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung
pulang diantarkan Raka. Di rumah, pukul sembilan malam, aku terkejut mendengar
kabar dari Raka. Sakit, takut, marah, dan aku tak tahu lagi apa yang aku
rasakan. Aku ingin marah, tapi tak tahu harus marah dengan siapa. Iya, Andri
seseorang yang dulu kucinta, sekarang telah pergi bersama senja merah yang di
telan gelapnya malam.
Aku memberitahukan kabar ini kepada
keluargaku dan kekasihku, Rama. Mereka semua terkejut, tak hanya aku. Bahkan
Rama langsung pergi ke Semarang untuk menemaniku. Malam ini terlalu pekat, tak
ada bintang dan rembulan. Seakan mendung sedih menutupi kebahagiaan dunia. Suara
tangis tak rela mengisi ruang yang selama lima hari menjadi tempat
kebersamaanku dengan Andri.
Wajah tampan dan senyum manis itu masih
tersisa di wajah kakunya. Aku melihat kebahagiaan karena takkan lama lagi
keinginannya untuk tinggal di senja merah akan terkabulkan. Malam ini menjadi
semakin panjang. Aku tidak ingin ditinggalkan seorang sahabat dan mantan
terindahku itu.
Sang Surya seakan merasakan kepedihan
hati yang ditinggalkan seseorang yang berarti. Mendung pun menggantung menahan
air mata duka. Bahkan rintik gerimis pun mengantarkan jenasah Andri yang akan
bertemu dengan Tuhan. Rama yang sedari tadi berusaha menguatkanku menerima
kenyataan yang ada.
“Sudahlah sayang, jangan bersedih lagi.
Andri pasti juga ikut sedih kalau meluhatmu berduka sepanjang hari.” Kata Rama.
“Iya sayang, aku tidak menyangka, kemaren
adalah hari terakhirku bergurau dengannya.” Isakku.
“Ikhlaskan saja dan berdoalah semoga dia
ditempatkan di sisi Tuhan yang paling indah.”
“Aamiin ya Allah.” Tangisku di pelukan
Rama.
҉҉
҉҉҉ ҉
Hari ini tepat sebulan Andri pergi
meninggalkan kami. Aku pun sudah kembali ke Yogjakarta. Sore ini aku pergi ke
pantai Indrayanti dengan Rama. Aku melihat secercah senja merah manis tersenyum
di ufuk barat. Aku melihat Andri tersenyum manis mengawasi kami di balik
cakrawala. Dia telah bahagia di singgasana barunya. Dia telah menepati janjinya
kepadaku, akan melukiskan senja yang indah untukku. Kami merindukannya. Kami
menyayanginya dan akan selalu mendoakannya agar selalu melukiskan senja manis
setiap hari.
END
No comments:
Post a Comment