Tuesday, 31 December 2013

Izinkan Aku Mengecup Bibirnya


Semenjak beberapa tahun lalu, aku telah memutuskan untuk hidup bersamamu. Kulewati suka dan duka berdua. Akupun telah sanggup menerima kekuranganmu. Iya, bahkan aku tak sanggup lagi kehilanganmu.
Namun, salahkah aku bila selama ini masih ada seuntai nama yang bertahan di lubuk hatiku? Berdosakah aku bila aku masih sering menghabiskan waktu bersamanya? Entahlah, Sayang, aku  tahu takmungkin hidup bersamanya, dan dia takmungkin pula memilihku. Aku tetap memilihmu, Sayang.
Tapi, sebelum aku meninggalkan dia selamanya, izinkan kupeluk dan kucium bibirnya untuk yang terakhir kalinya.  Aku ingin merasakan hangat kasih sayangnya yang selama ini kita ukir bersama,  ingin kuceritakan apa yang kurasakan selama ini lewat ciuman perpisahan. Aku ingin menatap matanya agar dia tahu pengorbananku selama ini.  

Izinkan aku mencium bibirnya, Sayang, agar aku mampu mengembalikan semua kenangan bersamanya. Izinkan aku mencium bibirnya untuk terakhir kalinya, agar dia tahu aku pernah mencintainya dengan sangat, sebelum akhirnya aku lebih memilihmu.


Monday, 14 October 2013

Perpisahan Termanis ~ Untukmu :(Yang menganggap Kakakku):

Bila nanti kita berpisah
Jangan kau lupakan
Kengan yang indah
Kisah kita

Jika memang kau tak tercipta
Untuk ku miliki
Cobalah mengerti
Yang terjadi

Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
Tuk tetap bertahan
Di tengah kepedihan

Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu

Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

Semoga kelakkan kau temukan
Kekasih sejati
Yang kan menyayangi
Lebih dariku

Bila mungkin memang tak bisa
Menyatukan perbedaan kita
Dan tetap bertahan
Ditengah kepedihan

Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang waktu

Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

Monday, 8 April 2013

NADA CINTA


Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan..
Kaubuat remuk sluruh hatiku...


Sontak aku terkejut mendengar suara lembut yang sayup-sayup terbawa angin. Aku yang sedang duduk di bawah pohon rindang ini mencari sumber suara yang mengalunkan lagu Pupus tadi. Aku mengumpulkan skesta bangunan yang sedari tadi menemaniku menikmati hembusan angin di samping bangunan kampus seni rupa yang bercat krem. Aku berdiri mengecek sekeliling, berharap menemukan sumber suara yang berhasil menyita perhatianku. Aku berjalan ke belakang kampus, yang terlihat hanya beberapa pepohonan rindang dan suasana yang sepi.
Sempat kutangkap sesosok perempuan berkaos hitam dengan rambut yang diikat ekor kuda dari kejauhan. Dia berjalan menuju kampus seni musik sambil menyanyikan lagu Pupus yang kudengar tadi. Aku hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Entah apa yang membuatku begitu tertarik dengan perempuan yang bahkan aku belum sempat bertemu sebelumnya.
“Hey, Ga! Ngapain lo disini? Kesurupan tau rasa lo.” Panggil Dicky mengagetkanku. Dicky, salah satu temanku yang berambut gondrong yang suka muncul tiba-tiba dan ngagetin. 
“Nggak ngapa-ngapain. Eh lo tau nggak, tadi gue liat cewek hlo.” Kataku.
“Cewek apaan? Sepi ini. Udah deh mendingan balik ke kelas aja, udah jam satu lebih nih, nggak usah bikin cerita horor di siang bolong.” Kata Dicky sambil menepuk bahuku.
Aku mengikutinya dan masih sering menengok ke belakang berharap melihat cewek berkaos hitam tadi.
Sepulang kuliah aku langsung balik ke kos, mengambil sepasang sepatu roda dan pergi lagi ke tempat main sepatu roda dengan teman-teman. Kupasang headset ke telingaku sambil menikmati hembusan angin yang membelai wajahku saat aku melaju dengan sepatu roda hitamku. Setelah aku melakukan beberapa kali putaran, aku kembali ke tempat berkumpulnya teman-temanku.
“Tuh Ga, lo dilirik Mely mulu tuh.” goda Arman sambil nunjukin dimana Mely berada.
“Ah ngelirik lo kali.” Jawabku simpel.
“Emang lo gak tertarik ama Mely? Tuh lihat, dia cewek paling cantik and seksi di kampus kita. Banyak cowok yang ditolak gara-gara dia naksir lo tuh.” Kata Arman lagi.
“Enggak.” Jawabku sambil senyum.
“Rega tuh naksirnya ama cewek penghuni belakang kampus kita.” Dicky menimpali.
“Mbak kunti maksud lo?” tanya Feri disusul tawa teman-teman.
Sesaat aku ingat lagi dengan cewek yang kulihat tadi siang di belakang kampus. Siapa ya dia? Tiba-tiba aku tersenyum mengingat suara nyanyiannya.
“Ngapain lo senyum-senyum? Tuh kan udah kesambet.”goda Dicky lagi.
“Udah ah, capek gue. Pulang yuk ah, udah mo malem nih.” Kataku sambil berdiri.
“Oke, besok kuliah jam berapa, Guys?” tanya Feri.
“Kebiasaan deh lo, jam sembilan kayaknya. Gue balik dulu ya.” Kataku meninggalkan markas pinggir jalan dengan diikuti Dicky, karena kami memang satu kos.
Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aneh memang, tapi aku tak mau ambil pusing. Setelah mandi aku cuma pakai kaos cokelat oblong dan jeans hitam. Rambut kusisir gaya spikes seperti biasanya, lalu aku berangkat pada jam yang masih pagi menurutku.
“Mau kemana, Ga pagi-pagi gini?” tanya
“Mau ngampus, bro.” Kataku sambil memakai sepatu.
“Masih jam delapan nih, pagi amat.”
“Pengen main-main dulu nyari penghuni belakang kampus. Haha”
“Udah gila lo ya.”
“Gue berangkat dulu ya.” Pamitku.
Di depan gerbang kampus aku bertabrakan dengan cewek sampai biola dan kertas paranadanya terjatuh.
“Maaf Kak, maaf.” Ucap cewek itu.
“Oh iya, gak apa-apa kok.”
Sekilas kuperhatikan wajahnya yang terlihat lugu dan lembut dengan kacamata frame putih. Rambut panjang yang masih acak-acakan seolah menandakan kalau dia sudah terlambat masuk kelas. Setelah kubantu mengumpulkan kertas paranada itu, dia langsung mengucapkan terima kasih dan berlalu menuju kampus seni musik.
Kelas desain masih setengah jam lagi. Aku menyetel musik di mp3 sambil duduk di bawah pohon beringin di samping kampus menikmati suasana sepi ini. Memang jarang ada mahasiswa yang main atau nongkrong disini, makanya aku suka menikmati suasana sepi di tempat ini.
Lalu aku mendengar nada ‘My Heart Will Go On’ dari gesekan biola dengan lembut. Aku melepaskan headset dari telingaku. Aku berjalan ke belakang kampus dan kutemukan seorang cewek yang sedang memainkan biolanya di bawah pohon beringin yang tidak terlalu lebat. Aku sangat menikmati permainan biolanya.
Aku mengambil kertas gambar dan pensil dari tas dan mulai melukis cewek – yang entah siapa namanya – itu dari kejauhan. Kugoreskan pensil pada kertas polos putih itu sampai tergambar sesosok wanita yang anggun dengan biola di pundak kirinya.
Setelah kuperhatikan lagi dengan teliti, aku seperti pernah melihat cewek ini, dan ingatanku tertuju pada cewek yang tadi pagi menabrakku. Aku sudah tidak bisa menahan diriku untuk mengenalnya lebih dekat. Aku berjalan pelan mendekatinya.
“Hai, permainan yang bagus.” Pujiku.
Dia yang terlihat terkejut langsung menghentikan permainannya dan menundukkan kepalanya. Diraihnya tas hitam kecil dan dimasukkannya kertas paranada yang tercecer di luar tas.
“Maaf, aku mengganggu kakak ya? Maaf.” Ucapnya nerkali-kali sambil menundukkan kepalanya.
“Oh tidak kok. Aku malah menikmati alunan permainan biola kamu. Sungguh.” Kataku meyakinkan.
“Maaf ya kak, aku pergi dulu kalau begitu.” Kata cewek itu dengan wajah yang masih menunduk. Seolah dia ketakutan atau hanya malu.
“Udah, nggak usah pergi. Disini aja mainnya, kalau disini tak akan ada yang mengganggu.”
“Emm.. tapi kak?” katanya lagi sambil menegakkan mukanya ke arahku.
Deg.. deg..
Jantungku langsung berdebar begitu melihat mukanya secara langsung dan detail. Aku berusaha menyembunyikan kegugupanku yang tiba-tiba muncul ini.
“Oh emm.. boleh tau, namamu siapa ya? Kok aku baru liat kamu akhir-akhir ini aja?” tanyaku mengalihkan topik.
“Nada, kak.” Jawabnya singkat sambil menundukkan kepalanya dan duduk di bangku yang ada disebelahnya.
“Semester berapa? Jurusan seni musik ya? Kenalin gue Rega.” Salamku dengan senyuman.
“Masih semester 3 kak.” Jawabnya sambil memasukkan biola ke dalam tas biolanya.
“Terus, ngapain kamu disini jam segini? Nggak ada kuliah?” tanyaku lagi. Aku terlalu bersemangat untuk mengenalnya.
“Aku terlambat tadi, Kak. Makanya aku nggak dibolehin masuk kelas. Ya kesinilah aku kalau nggak ada kelas. Hehe.” Ujar Nada diikuti senyum lucunya.
“Oh lain kali sering-sering kesini aja, biar aku bisa sering dengerin kamu main alat musik.” Kataku ramah.
“Iya Kak. Lha emangnya kakak ini nggak ada kelas?” tanyanya heran.
Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Sembilan lebih empat belas menit!
“Hah? Aku juga dah telat nih! Aku pergi dulu ya Nad, salam kenal. Kapan – kapan main bareng disini ya.” Kataku sambil setengah berlari dan tetap melemparkan senyum termanis padanya.
“Iya.” Jawab Nada sambil tersenyum simpul.

Setelah perkenalanku dengan Nada, aku jadi lebih bersemangat berangkat kuliah pagi. Entah karena aku memang sudah rajin atau cuma ingin bertemu si Nada. Dicky yang sering melihat kelakuan baruku ini jadi heran, karena biasanya dulu aku selalu berangkat bareng dia mulu.
“Hai , Nad. Udah lama disini? Nggak ada kelas ya?” tanyaku sambil meletakkan tas di bangku belakang kampus, tempat kita berdua biasa nongkrong.
“Eh Kak Rega, nggak ada kelas kok. Hla kakak nggak ada?” tanyanya sambil membenarkan kacamatanya.
“Ada, tapi entar jam sembilan. Lagi ngapain nih?” tanyaku sambil melihat kertas paranada yang sedang dikerjakan Nada.
“Oh ini, aku sih cuma iseng-iseng mau ikutan lomba cipta lagu tingkat kampus, ya syukur-syukur dapet duit buat beli sepeda. Hehehe.” jelas Nada disusul tawa manisnya.
“Wah keren dong. Gue doain deh menang ya, kalo menang jangan lupa traktirannya.” Dukungku dengan candaan.
“Siapp pak bos, tapi aku nggak mau terlalu banyak berharap, secara gitu lawanku pasti sudah pada ahli.” Katanya seolah pesimis.
“Menang kalah sih sama aja, setidaknya kamu udah mau berusaha itu udah hebat hlo. Semangat dong, jangan pesimis dulu.” Kataku sambil mengacak-acak rambutnya.
“Iya deh, iya Kak. Udah ah aku mau bikin ini dulu, Kak Rega ngapain gih sana. Hehe”
“Iya deh aku mau bikin sketsa aja, nggak mau ganggu bos kecil berkarya.hahaha.” kataku lalu mengambil kertas gambar dan diam – diam menggambar Nada yang sedang berpikir sambil mencoba mengepaskan nada-nada biolanya.
Di kelas, Dicky tiba-tiba bertanya padaku tentang cewek yang sudah merebut perhatianku itu.
“Ga, lo beneran naksir tuh cewek?” tanya Dicky.
“Cewek yang mana?”
“Itu tuh cewek penghuni belakang kampus. Tadi pagi gue liat lo ama tuh cewek di belakang. Dia kayaknya cupu gitu deh, masa lo lebih milih cewek cupu gitu daripada Mely yang cantik and udah lama naksir lo?”
“Ngga tau Dick, tapi di pikiran gue yang ada cuma Nada, dia manis banget. Gue nggak sanggup ngelupain dia dari otak gue.” Kataku sambil membayangkan wajah lugunya.
“Oooh, jadi Nada namanya? Kok lo jadi melankolis gini sih, hahaha. Ya gue dukung deh lo, daripada entar malah gila.” Ledek Dicky.
“Tapi tunggu deh, emang lo tau kalo dia masih jomblo apa enggak? Ya ntar takutnya kalo ternyata dia udah punya pacar, lo malah depresi, frustasi, trus bunuh diri lagi.” Sambung Dicky lagi.
“Belum tau sih, ya setidaknya gue bisalah jadi temennya dia, daripada enggak sama sekali. Emangnya lo yang suka mo bunuh diri dengan nyebur bak mandi?” ejekku lagi.
“Oke deh, gue nyerah aje sama lo.” Kata Dicky ngalah.


‘Kak, hsil cipta laguku udh kukirim nih. Mhon doanya ya J’
Isi pesan singkat dari Nada, setelah aku berhasil minta nomer hp-nya dua minggu lalu.
‘Iya, gue doain semoga lolos ya Nad.’ Balesku.
Malam ini aku sedikit heran karena tumben Nada sms aku lebih dulu. Biasanya dia memang tak pernah mengirim pesan padaku lebih dulu. Tapi hal ini justru membuat aku tak bisa tidur semalam. Berusaha menerka-nerka apakah Nada juga ada rasa padaku atau hanya sekadar merasa nyaman berteman denganku.
 Lima hari setelah Nada mengirimkan hasil karyanya untuk lomba, pagi inilah hari pengumuman hasil lomba tersebut. Aku yang penasaran dengan hasil pengumumannya, bersemangat untuk menemui Nada. Aku yang terburu-buru ingin bertemu dengan Nada, tiba-tiba berhenti dan berjalan pelan mendekatinya yang sedang terduduk menunduk di bangku biasa kita bertemu. Aku melihat Nada seperti bersedih dengan selembar kertas yang di pegang erat di tangan kirinya.
“Nada?” sapaku pelan.
“Eh Kak Ega.” Jawabnya terkejut setelah menyadari aku sudah berdiri di sampingnya.
“Sudahlah Nad, jangan bersedih. Setidaknya kamu udah berusaha kan?” kataku berusaha menenangkan.
“Bukannya gitu Kak, kali ini aku harus tampil mendemonstrasikan apa yang sudah aku mulai.”
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini kak hasil pengumumannya, aku masuk lima besar.” Ucapnya sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi pengumuman lomba.
Aku membacanya dengan sungguh-sungguh dan baru menyadari bahwa pengumuman ini berisi pemberitahuan bahwa Nada lolos ke dalam lima besar dan harus tampil mempertanggungjawabkan karyanya untuk menentukan pemenangnya.
“Nad, kamu lolos? Kamu lolos Nada! Puji Syukur! Kamu lolos ini Nad! Selamat yaa!” ucapku yang tanpa sengaja memeluk Nada saking bahagianya. Tiba - tiba aku menyadarinya dan melepaskan pelukanku sambil meminta maaf.
“Tapi Kak, aku belum siap untuk tampil di depan umum, apalagi di depan para juri. Seolah-olah mereka akan menghakimiku dengan sejuta pertanyaan dan komentarnya. Sebelumnya aku nggak pernah tampil di depan siapapun selain kedua orang tuaku.” Akunya sambil menundukkan wajahnya lagi.
“Dan teman-temanmu? Tak pernahkah kau bermain di depan mereka?” tanyaku heran.
“Hmm,, aku tak pernah mempunyai teman, setelah satu-satunya temanku pergi dalam kecelakaan waktu perjalanan rekreasi kelas 2 SMP. Makanya sampai sekarang aku nggak punya teman, gara-gara aku memang sulit berteman.”
“Maaf ya, aku malah membuka luka lamamu. Tapi sekarang, disini ada aku. Aku siap menjadi temanmu dan menemanimu kapanpun kau mau. Jadi kau tak perlu bersedih lagi ya. Oh iya, kapan kamu harus tampil? Mulai sekarang kamu berlatih ya, aku yang jadi jurinya.”
“Oke deh, tapi nanti aku malah mengganggu waktunya Kak Ega lagi?”
“Enggaklah, santai aja lagi. Aku malah seneng bisa ngeliat orang lain main alat musik.” Jawabku meyakinkannya.
Setelah hari itu, aku selalu menemani Nada berlatih untuk mengikuti lomba final tersebut. Dicky dan teman-teman nongkrongku mulai merasa kalau aku semakin jauh dari mereka. Apalagi Mely yang kabarnya suka sama aku, sekarang malah sering marah karena jarang kumpul dengan teman-temanku.
Sampai pada suatu siang saat aku menemani Nada latihan di tempat biasa, Dicky, Arman dan Mely tiba-tiba datang menemui kami.
“Hey, Ga!” sapa Arman sambil berjalan mendeati kami.
“Hey, bro! Tumben kalian pada kesini. Ada apa nih?” tanyaku heran.
Kejadian ini membuat Nada menghentikan latihannya. Dia memperhatikan kami satu per satu karena mungkin merasa asing dengan wajah-wajah baru.
“Oh ini nih yang sudah bikin Rega jauh dari kami?” tanya Mely sinis.
“Apa-apaan sih Mel? Biasa aja deh. Nad, kenalin mereka temen-temen gue. Ini Arman, yang gondrong itu Dicky, dan dia Mely.” Kataku sambil mengenalkan teman-temanku ke Nada.
“Aku Nada, salam kenal.” Ucapnya sambil menunduk.
“Cewek yang manis.” Puji Dicky.
“Hih, sok imut banget deh!” kata Mely sinis.
“Yang sopan dong Mel!” bentakku.
“Sopan? Emang gue lagi ngomong sama rektor? Gue ini lebih tua dari dia, Ga!”
“Udah, gak usah dengerin mereka. Kamu jurusan seni musik ya, Nad?” kata Arman mengalihkan pandangan Nada.
“Kesini deh Mel!” kataku sambil menarik Mely ke tempat yang agak jauh dari Nada.
“Lo itu apa-apaan sih? Tiba-tiba dateng, terus ngomong sinis kaya gitu ke temen gue. Emang apa masalah elo sih?” tanyaku mencoba tetap tenang.
“Lo tanya masalahnya apa? Lo tau kan, dari dulu gue suka sama elo, gue cinta sama elo, perhatian sama elo, tapi lo nggak pernah perhatian ke gue kaya lo perhatian ke Nada. Gue cemburu, Ga!” aku Mely.
“Maaf sudah bikin lo cemburu. Tapi pernahkan aku bilang cinta juga ke kamu? Dari dulu lo juga tau kan, gue cuma bisa berhubungan sama elo selayaknya seperti teman biasa, nggak lebih.” Jujurku.
“Iya, tapi gue kira elo bisa cinta sama gue seiring berjalannya waktu. Dan tiba-tiba cewek itu dateng dan merebut semua perhatianmu.” Kata Mely dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf Mely, rasa ini tidak bisa dipaksakan. Aku sudah jatuh hati sama dia, walaupun aku tak tahu bagaimana dengannya. Setidaknya aku masih bisa melihatnya tersenyum di dekatku. Aku bahagia.” Kataku sambil memandang wajah manis Nada dari kejauhan.
“Kamu benar-benar keterlaluan Ga.” Kata Mely sambil pergi meninggalkan kami, setelah menatap tajam ke mata Nada.
Nada seperti ketakutan. Arman dan Dicky mengikuti Mely dan berusaha menenangkannya. Aku mendekati Nada dan berusaha menjelaskan semuanya.
“Maaf ya Nada, tadi cuma salah paham.” Ucapku.
“Maaf Kak, aku sudah menyebabkan masalah diantara kakan dan temen-temen kakak.”
“Enggak kok, Nad. Masalah tadi dilupain aja ya, biar kamu konsen pada pertunjukan dua hari yang akan datang.” Kataku lagi.
“Kak, aku pulang dulu ya, sudah sore. Maaf kak, sudah mengganggu waktu kakak.” Kata Nada dan berlalu meninggalkanku.
Aku hanya mampu memperhatikan sosok Nada dari belakang. Aku ingin berteriak kencang kalau aku mencintainya. Tapi aku takut kalau hal ini menciptakan jarak diantara kita. Aku tidak mau hal ini terjadi.

  
Pagi harinya aku pergi ke tempat biasa, berharap menemui sosok manis Nada yang selama ini mewarnai hidupku. Tapi aku tidak beruntung. Aku tidak menemukannya di tempat biasa. Aku mencoba mencarinya di kampusnya, berharap bisa melihat senyumnya. Aku merasa bersalah padanya. Dicky yang dari tadi menemaniku mencari Nada, menepuk pundakku supaya aku sabar.
“Sabar ya, Ga. Lo pasti bisa nemuin dia kok.” Kata Dicky.
“Iya Dick, gue merasa bersalah banget gara-gara kejadian kemaren. Gue takut nggak bisa ketemu dia lagi.” Sesalku.
“Bukannya dia pasti tampil di pertunjukan demonstrasi karyanya?” tanya Dicky.
“Oh iya, besok! Besok dia bakalan tampil di Auditorium. Gue harus dateng dan minta maaf padanya besok.” Kataku bersemangat lagi.
“Dan menyatakan perasaanmu padanya kalau lo tak ingin kehilangannya lagi.” Nasihat Dicky.
“Akan kuusahakan.” Jawabku mantab.
Hari ini adalah hari dimana Nada akan mempertunjukkan hasil kerja kerasnya demi memenangkan lomba cipta lagu ini. Dari tadi malam aku tidak bisa tidur karena tidak sabar ingin segera melihat penampilan Nada di atas panggung.
Pagi ini aku sudah duduk di barisan nomor tiga dari depan di temani Dicky. Aku tidak memperhatikan kontestan yang lain. Aku hanya menunggu penampilan Nada.
“Dan peserta yang ke empat adalah Nada Margaretha. Selamat menyaksikan!” Kata MC disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Aku melihat Nada keluar dengan gaun hitam selutut dan biola hitamnya. Ada yang berbeda dari penampilan Nada kali ini. Dia tampil tanpa kacamata dengan rambut yang diponi dan diurai ke belakang dan dihiasi bandana warna perak bermotifkan berlian.
Dia terlihat begitu anggun dan sangat cantik. Bahkan aku tak ingin berkedip karena ingin selalu melihat setiap detail gerak dan wajahnya. Aku sudah terhipnotis dalam mantra nada yang mengalun dari gesekan biola yang dimainkannya. Seolah aku ingin melihat lebih dekat lagi seperti saat aku melihatnya berlatih.
Suara tepuk tangan dari penonton membuyarkan lamunanku tentang Nada. Tentang dia yang kucinta. Setelah penampilannya, aku langsung pergi ke belakang panggung, berharap bisa menemuinya. Aku melihat dia sedang berpelukan dengan dua orang yang aku pikir mungkin itu orang tuanya.
Seperti tanpa sengaja dia melihatku yang tengah berdiri memandanginya dari jauh. Dia berjalan mendekatiku dan aku berjalan maju menghampirinya. Kami bertemu pandang, terdiam dan tersenyum bersama.
“Hai, Nada! Tadi penampilan yang sangat bagus. Selamat ya karena sudah berhasil tampil dengan memukau.” Sapaku hangat sambil menjuluran tangan untuk menyalaminya.
“Terima kasih Kak Ega. Ini semua juga berkat Kak Ega yang sudah bersedia menemaniku selama latihan.” Ucap Nada, manis.
“Bukan, ini semua tentangmu. Tentang kemauanmu, usahamu, dan kerja kerasmu selama ini. Dan tentang aku yang ingin selalu melihatmu berlatih, ingin selalu bersamamu dan aku yang ingin meminta maaf padamu tentang kejadian waktu itu.”
“Sudahlah Kak, aku sudah tau semuanya kok. Kakak nggak bersalah tentang kejadian itu. Kak Mely sudah bercerita banyak padaku.” Kata Nada dengan senyum yang merekah.
“Benarkah? Apakah dia juga bercerita tentang aku? Tentang perasaanku padamu?” tanyaku.
“Perasaan? Maksud kak Ega?” tanyanya balik.
“Nada, sejak awal aku mendengar suaramu dan belum tahu siapa kamu, aku sudah jatuh hati pada pemilik suara merdu itu. Aku selalu berusaha menemukan siapa pemilik suara itu, dan itu kamu. Aku mendengarmu bernyanyi, melihatmu bermain alat musik, dan menemanimu berlatih, semua itu karena aku telah jatuh hati padamu sejak pertama kali mendengar suaramu. Aku mencintaimu. Aku nggak mau kehilanganmu lagi.” Jujurku sambil memegang kedua tangannya.
“Tapi Kak...” ucapnya terputus.
“Apakah kamu sudah punya kekasih lain?” tanyaku ragu.
“Bukan, bukan begitu. Sejujurnya aku juga bahagia saat bermain dengan kakak, aku juga berlatih giat supaya aku bisa tampil bagus untuk kakak. Tapi maaf, aku sudah lancang diam – diam juga mencintai kakak. Maafkan aku kak.” Akunya.
Aku yang sedari tadi sudah berusaha menerima penolakan cinta dari Nada, langsung terkejut dengan pernyataannya bahwa dia juga mencintaiku. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi dan langsung memeluknya.
“Kamu serius? Nggak bercanda kan? Jadi maukah kau mengisi hari-hariku untuk kedepannya dengan cinta kita berdua?” kataku menembaknya.
“Hehemm, iya Kak.” Jawabnya setuju sambil tersenyum malu – malu.
Sekali lagi aku memeluknya dengan erat seperti tak ingin kehilangan dirinya lagi.

Kami menunggu pengumuman pemenang dengan was-was. Saat MC mengumumkan siapa juara ketiga, aku berharap semoga Nada masuk ke dalam tiga besar. Dan ternyata nama Nada Margaretha disebut pada urutan juara kedua. Kami bersorak ria, tak perlu juara satu untuk menunjukkan bahwa kita menang, tapi menurutku Nada sudah menjadi juara karena dia sudah mau berusaha dan menunjukkan pada dunia bahwa dia bisa lebih baik dari orang lain.
Aku berpelukan dengan Nada sebagai ucapan selamat setelah dia berpelukan dengan kedua orang tuanya. Aku begitu bahagia melihat dia tersenyum dan tertawa dengan begitu lepas dan polosnya.
Nada, gadis yang telah mengalunkan nada-nada cintaku hingga menyentuh palung hati. Nada, gadis lugu yang berhasil meluluhkanku. Nada, yang kuharap selalu menciptakan nada-nada baru di dalam hidupku bersamanya.