Assalamualaikum warahmatullaah..
Sudah lama tak berkunjung di blog tercinta ini. Ah, rasanya
rindu sekali, tapi tak mengalahkan rinduku padamu, Kekasih yang kuharap bisa
menggandengku kelak.
Kekasih? Iya, kamulah kekasih yang kubicarakan itu. Kamu yang
sebenarnya ingin segera kumiliki seutuhnya dalam ikatan yang halal, bukan
kekasih-kekasihan yang semu.
Kau tahu, Kekasihku? Apa yang selalu wanita –khususnya aku–
idamkan dari suatu pendekatan? Adalah hubungan
yang lebih suci, dan lebih mulia di hadapan Tuhan. Bukan hubungan pacaran yang
sudah terjalin bertahun-tahun tanpa tujuan yang pasti. Iya, aku percaya dalam
setiap pacaran pasti menggunakan dalih untuk menuju ke jenjang yang lebih
serius. Tetapi tidak sedikit darinya setelah bertahun-tahun lamanya berpacaran
namun akhirnya kandas karena berbagai alasan yang dibenarkan dari masing-masing
pihak. Entah itu karena kekurangcocokan prinsip, adanya pihak ketiga yang
sengaja ingin menghancurkan, dan bahkan adanya pihak lain yang lebih mencintai
dan siap mempertanggungjawabkan cintanya di hadapan Tuhan dalam ikatan yang
suci.
Entah mengapa alasan memutuskan pacaran yang terakhir aku
sebutkan itu terdengar lebih berani dan lebih romantic. Karena aku percaya
dengan ungkapan “kalau mencintai seseorang, ungkapkan perasaanmu kepadanya dan
juga orang tuanya, kemudian segerakanlah bawa cintamu di hadapan Tuhan dalam
ikatan perkawinan”. Aku tidak tahu darimana aku mendapatkan ungkapan tersebut,
tapi seperti itulah seharusnya cara memperjuangkan cinta.
Kekasihku yang selalu kuperdebatkan dengan Tuhan, kau tahu?
Sering sekali malam-malam telah aku lewati dengan curahan, permohonan, dan
bahkan perdebatan dengan Tuhan. Ya, perdebatan. Tuhan sebagai hati kecilku, dan
akulah yang selalu menguasai egoku.
Semenjak kepergianmu dengan dalih ingin mendekatkan pada
Sang Pemilik Hati di alam semesta, aku pun juga berkomitmen untuk tak ingin
menjalin hubungan yang kata anak kekinian disebut pacaran. Aku telah berjanji
pada Hati Kecilku untuk tidak menerima tawaran berpacaran, dan hanya akan
menerima lamaran pernikahan saja. Kalau urusan mencintai, semua itu hanyalah
hal mudah yang dapat Tuhan ciptakan dalam sekejap. Aku tak ingin berpacaran,
Kekasihku.
Tapi tiba-tiba Kau datang bertamu ke pintu hatiku untuk
kedua kali. Kau seolah membawa bingkisan rasa bersalah yang ingin kautebus dan
seikat cinta di tanganmu. Hatiku sang sudah damai tanpa rasa cinta yang remeh
temeh pun akhirnya terombang-ambing dengan segudang fakta yang telah kupahami
betul tentang risiko jika kuterima kembali cintamu. Ya, aku sadar aku pasti
akan kembali menunggu waktu yang lama agar kau bisa membuktikan perasaan
cintamu padaku. Aku tahu itu pasti, sama seperti saat kau mencintaiku dulu. Lalu
apa yang harus kulakukan, Kekasihku?
Setelah perdebatan panjang kala itu, akhirnya kuputuskan
untuk membuka kembali hatiku untukmu dengan satu syarat yang mungkin hanya aku
dan Tuhanlah yang tahu. Syarat yang mungkin berat untukmu atau akan sangat
mudah dilakukan orang lain yang sungguh mencintai wanitanya lebih dari apapun. Yaitu
aku akan memberikan waktu satu tahun untukmu membuktikan “rasa cintamu” sampai
pada ikatan yang akan direstui Tuhan di dunia dan akhirat. Aku memberikanmu
waktu satu tahun, dan apabila satu tahunmu telah usai tanpa adanya kemajuan
yang signifikan, aku akan mengikuti cara kerja Tuhan dalam memberikan jodohku,
bagaimanapun caranya, dan siapapun dia. Itulah janjiku padaNya saat itu.
Kini setiap malam-malamku menjadi kegelisahan yang selalu
kutanggung sendiri. Hari demi hari dan bahkan bulan demi bulan telah terlewati
dengan sia-sia, dan bahkan yang kudapati kamu seolah belum menunjukkan kesiapan
padaku. Aku takut waktuku habis dan harus melepaskanmu lagi, sedangkan aku
sudah terlanjur jatuh lagi di hatimu. Aku takut, Kekasihku.
Kekasihku, pernahkah aku dan keluargaku mensyaratkan kamu
harus memiliki kehidupan yang sukses dulu, ataukan pernahkah kami menuntutmu
untuk mengadakan pesta pernikahan yang mewah? Selama yang kutahu di depanku,
kami tak pernah memberikan syarat seperti itu padamu. Yang aku harapkan
sebenarnya adalah rasa tanggung jawabmu untuk memiliki dan perasaan saling
ingin membahagiakan dan menguatkan satu sama lain. Untuk pernikahan, walaupun
jauh sebelumnya sebagai seorang wanita aku juga pernah menginginkan pernikahan
yang mewah dengan banyak bunga dan kain putih yang melambai-lambai pada tamu
undangan. Tapi mimpi mewahnya pernikahan secara berangsur kukubur dalam-dalam
untuk meringankan beban dan syaratmu menghalalkanku. Karena kini, yang aku
inginkan hanyalah sebuah ikatan halal dalam agama agar tidak ada lagi dosa yang
kita perbuat bahkan saat pandangan kita saling beradu. Aku ingin pacaran,
tetapi pacaran setelah menikah. Aku ingin benar-benar merasakan perjuangan
berdua menuju kesuksesan yang diridhai Allah Ta’ala. Aku ingin secara
terang-terangan menyebutmu imam dalam setiap doa-doaku pada-Nya. Aku ingin
sesungguh-sungguhnya mencintaimu tanpa aling-aling yang menjerumuskan dalam
dosa.
Kekasihku, bantulah aku membuktikan janjiku pada-Nya bahwa
Kaulah yang terbaik buatku.
Karena aku mencintaimu.
-
Kekasihku -
