Friday, 4 December 2015

Kekasih Halalmu (The Only One) ~Noura



Jangan coba-coba sentuh hatiku
Kalau kau tak niat serius
Bila ku benar-benar jatuh cinta
Apa kau mau tanggung jawab

Bukan berarti ku tak suka kau dekati aku
Tapi aku takut kau hanya memberiku harapan palsu

Woo o ow hu huu apakah kau menaruh hati padaku
Dan berniat untuk menjadikan aku kekasih halalmu
only one for you,
only one for you

Jangan coba-coba dekati aku
Hanya karena kau ingin tahu
Bila ku benar-benar jatuh cinta
Ku pasti kan selalu setia

Bukan berarti kau tak boleh mendekati aku
Tapi aku takut kau hanya memberiku harapan palsu

Woo o ow hu huu apakah kau menaruh hati padaku
Dan berniat untuk menjadikan aku kekasih halalmu
only one for you,
only one for you

Kalau kau benar sayang
Jangan pernah kecewakan diriku
promise me you’ll marry me
I will be the best for you
I will be the best for you


Woo o ow hu huu apakah kau menaruh hati padaku
Jadikanlah aku the only for you
Satu di hatimu, only for you

Woo o ow hu huu satu di hatimu
Woo o ow hu huu kekasih halalmu
only one for you (only one for you)
Satu di hatimu (satu di hatimu) kekasih halalmu

Monday, 30 November 2015

Kau Tak Pernah Tahu


Kau tak akan pernah tahu,
sesakit apa kugadaikan perasaanku saat benar-benar terjatuh seorang diri;
Separah apa saat segala luka mengucurkan darah dari semua sudut tubuhku;
dan kau takkan pernah tahu, bagaimana rasanya merangkak dan memohon pada lini waktu untuk menghentikan sandiwara yang sedang kau perankan.
Aku sudah tak sanggup lagi memerankan protagonis yang melulu menangis.
Aku sudah muak melihatmu dengan pengkhianat bertopeng malaikat itu!
Ya, malaikat pencabut akhlak; yang memaksaku mengumpat bangsat!
Kau tak pernah tahu gejolak dalam dada yang selalu memenangkanmu; memojokkanku bahwa akulah penyebab semuanya.
Jiwaku sirna dalam raga tak berbentuk.
Remuk terhempas ombak pantai yang mengamuk!
Kau takkan pernah tahu,
Sekuat apa aku berusaha bangkit; walau tetap terjatuh dan tersungkur lagi pada jalan setapak tempat kita menanamkan tujuan bersama dulu.
Kau takkan pernah tau berapa ribu iblis yang mengiringku menuju lembah kenistaan yang lebih dahsyat.
Dan aku tak pernah sadar tentang jutaan malaikat yang menuntunku dan mendoakanku;
Walaupun kau tak pernah tahu.

Saturday, 26 September 2015

Surat Terbuka untuk Mantan Kekasihku dan Kekasih Barunya

     Hai Adek, yang biasa dipanggil oleh Mamasku dulu!! Bagaimana kabarmu? Oh lebih tepatnya, bagaimana kabarmu dengan mantan kekasihku yang beberapa saat lalu melepaskanku demi memilihmu?
     Tenang, aku takkan marah padamu, Adek-nya Mamasku. Aku tak bisa marah dan takberhak marah padamu. Justru dengan inilah aku ingin mengucapkan banyak TERIMA KASIH kepadamu karena telah menunjukkan siapa sebenarnya orang dulu pernah kucintai sepenuh hati. Aku ingat, dulu aku pernah bilang pada media social mengenai “Godalah Kekasihku, kalau dia tergoda denganmu, aku akan berterima kasih padamu karena telah menunjukkan bahwa dia bukan orang yang tepat, dan apabila dia tidak tergoda denganmu, maka aku layak mempertahankannya”. Dan sekarang telah kubuktikan, Mamas memang bukan orang yang tepat untukku karena telah tergoda denganmu dan memilihmu. Sungguh, aku sangat dan sangat berterima kasih padamu, karena telah selangkah membukakan jalan padaku untuk menemukan orang yang akan benar-benar mencintaiku.
     Selamat ya Adek, kamu telah berhasil mendapatkan Mamas –yang entah mulai sejak kapan kamu berusaha mendapatkan orang yang saat itu masih kumiliki. Kamu tak perlu lagi takut ketahuan denganku saat mencuri perhatian Mamas, aku tak akan lagi mempermasalahkan hal itu karena aku telah memiliki hal yang lebih indah dari sekadar Mamas-mu kini. Aku hanya ingin memberikan satu saja nasihat untukmu, “suatu saat –sebagai sesama wanita– kuharap kamu takkan mengulangi untuk mencari perhatian kepada seorang lelaki yang telah memiliki pasangan, karena entah siapapun yang salah, tetap saja kamu yang menjadi penyebab ketidakbaikan itu terjadi”.
      Sekali lagi, Terima Kasih dan Selamat ya dengan cintamu kini. Semoga kamu bahagia dan langgeng dengan orang yang selama ini memang ingin kamu miliki. :) :)
     Dan teruntuk Mamas, kamu tak perlu lagi menyembunyikan semuanya padaku. Tak perlulah kamu menjaga perasaanku, karena aku sudah cukup baik untuk menjaganya sendiri. Akuilah kekasihmu yang sekarang, jangan berpura-pura lagi berkata padaku kalau kamu nggak pacaran sama dia. Alasanmu melepaskanku karena tidak ingin berpacaran dan ingin memperbaiki akhlak dan agamamu itu hanyalah alasan klasik kok, Mas. Kamu tau kan pepatah “Mau  bagaimanapun kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya”, dan aku sudah tahu semuanya. Sudah tak perlu lagi kamu backstreet terhadapku. Kita sudah dewasa bukan? Kalau memang dia lebih baik daripada aku, jalani saja dengan bahagia, karena aku tahu, bahagiaku juga tidak akan selamanya denganmu, kan? Pesanku untukmu hanyalah “Jadilah lelaki yang jantan dan bertanggung jawab. Ingat, jangan pernah menyakiti wanita lagi, karena seharusnya wanita harus dijaga tulang rusuknya, bukan untuk dirusak ataupun disakiti.”

      Mulai sekarang, berbahagialah dengan pilihanmu yang mungkin jauh lebih baik dariku, tak perlu lagi kamu menjaga perasaanku, entah kamu sudah berpacaran saat masih bersamaku atau seusai denganku, itu bukan lagi menjadi masalahku. Itu hanyalah masalah hati nuranimu. Terima kasih karena kamu telah memberikan pengalaman berharga untukku sehingga mendewasakanku. Terima kasih banyak. Dan Selamat ya, semoga langgeng. :) :)

Tuesday, 25 August 2015

Untukmu


Milyaran detik setelah kepergianmu, aku masih di sini. Ya, di sini dengan puing-puing rasa yang selalu ingin kuselamatkan dari hasutan banyak orang. Puing-puing rasa yang ingin kusatukan dengan lem percaya. Puing-puing rasa yang kutahu benar, mungkin sudah hilang dari hatimu.
Kamu yang tak pernah kubayangkan akan mengecewakanku, kini telah pergi untuk apa –atau siapa– yang bahkan tak pernah sekalipun menanyakan kabarku di sini. Kamu yang semula akan berusaha menemaniku walaupun terpisah namun nyatanya tak pernah sekalipun mau mendengar ceritaku lagi. Kamu yang semula menemaniku merangkai mimpi bersama dan sekarang semuanya hanya tinggal rangkaian mimpi yang terhembus angina malam. Entah untuk apa atau siapa kamu pergi, sampai kini aku tak mengerti.
Cinta. Kini aku tahu, tak perlu lagi aku mengganggumu dan meyakinkanmu. Aku tak akan memohonmu lagi untuk tetap tinggal. Aku harus melepaskanmu –mungkin untuk sosok yang lain. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu, melainkan aku harus tetap bahagia dengan keputusanmu. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menilai yang terbaik untukmu. Mungkin aku memang bukan orang yang tepat buatmu.
Maaf, karena selama ini aku tak bisa menjadi yang tercantik, aku tak bisa selalu menemanimu saat dukamu, aku tak bisa selalu memberikan perhatian lebih buatmu, aku tak bisa menjadi teman ngobrol yang asyik buatmu, aku belum bisa memasak makanan kesukaanmu, aku belum bisa membahagiakanmu. Maaf, karena hanya kesetiaan, cinta, dan kepercayaan saja yang aku bisa berikan padamu. Maaf karena hanya tiga hal tak penting itu yang bisa kupersembahkan padamu karena kemiskinanku. Maaf karena telah menghabiskan banyak waktumu menciptakan jutaan kenangan terindah untukku. Salam kasih, teruntuk yang Terkasih. Selamat jalan, Kasih. Berbahagialah selalu. J

Thursday, 30 July 2015

Dia yang Kutunggu. Dia yang Kumau. Dia yang Selalu Kurindu.

Aku jatuh hati, Tuhan. Jatuh hati pada orang yang sama yang telah menemaniku beberapa tahun terakhir ini. Jatuh hati pada sosok yang mengenalkanku bahagia, mimpi-mimpi masa depan, bahkan mengenalkanku dengan perjuangan dan derita.
Aku jatuh hati dengan ciptaan-Mu yang semula bahkan kukira tak akan membuatku jatuh cinta sejauh ini. Dia sederhana, baik, perhatian, dan yang aku baru tahu, dia kini sedang terbebani; karenaku. Tuhan, aku jatuh hati pada salah satu makhlukmu yang semula biasa menjadi sangat berharga, bahkan untuk melepasnya.
Tuhan, yang kutahu sekarang dia sedang bimbang dan ragu denganku. Aku tahu semua ini memang salahku. Salahku karena membahas hal sensitif itu dengannya, salahku karena tanpa kebetulan bapakku bekerja di tempat yang sama dengan saudaranya, salahku karena memasang foto keluargaku dengannya, dan salahku karena terlalu yakin padanya.
Tuhan, apa yang harus kulakukan kini? Dia menjadi sangat berbeda sekarang, aku tahu dia merasa sangat terbebani kini, dan aku menjadi semakin takut. Takut kehilangan orang yang telah mengajarkanku untuk tetap tinggal walau apapun yang terjadi. Tuhan, haruskah aku mempertahankan dia, sedangkan dia sendiri pun ragu untuk tinggal. Haruskah aku mempertahankan egoku atau membiarkannya bebas? Atau haruskah aku melepaskannya? Sedangkan aku sudah terlanjur nyaman pada hati yang selama ini kuanggap rumah impian di masa depan?
Aku bingung, Tuhan. Semua terasa begitu menyenangkan saat bersamanya dulu, bahkan di saat-saat terburukku. Semua terasa begitu ringan saat aku tanpa dosa menceritakan semuanya pada dia. Bahkan aku sudah menganggapnya separuh hatiku sehingga aku ingin dia tahu apa yang aku tahu. Sampai aku sadar, tanpa sepengetahuanku dia sudah menjadi nafasku.
Aku sadar, Tuhan. Aku bukanlah siapa-siapa. Cantik? Tidak. Kaya? Bukan. Membuat nyaman? Tidak seperti aku. Lalu apa hakku memintanya untuk tetap tinggal. Haruskah aku melepaskannya agar dia bisa bebas dan bahagia, Tuhan? Haruskah aku melupakan mimpi-mimpiku dengannya? Menikah sederhana, rumah kecil yang nyaman, dua anak, menunggunya pulang kerja walau sebulan sekali, bercanda dengannya, mungkin marahan yang selalu berakhir pelukan, dan masih banyak lagi mimpi yang harus sirna?
Kalau memang itu yang terbaik buatnya, apa lagi yang bisa kulakukan untuknya. Jaga dia Tuhan, aku mencintainya. Jaga hatinya, Tuhan, agar dia bisa selalu bahagia. Aku ingin selalu bertahan, tapi aku takut perjuanganku ini membuatnya semakin tersiksa. Aku terlalu mencintainya, Tuhan. Aku sudah terlanjur mempercayainya. Aku akan bertahan, sampai waktuku tiba dan harus menyerah dengan keadaan. Tapi percayalah, Tuhan. Aku masih selalu menyayanginya. Sungguh. LLL

Saturday, 25 April 2015

Sadness in My Heart

Terkadang, meratapi nasib itu perlu, bukan? Seperti sekarang ini, yang kulakukan hanyalah meratapi nasib. Aku seperti orang gila yang kehilangan arah dan akal sehatku. Aku sangat menyesal kenapa dalam masa laluku aku sangat cupu dan kuper. Gak tahu trend dan style yang cocok untuk diri sendiri. Aku selalu mengikuti kata hati yang mungkin takpernah sesuai dalam pandangan orang lain. Aku mengutamakan kebahagiaanku sendiri daripada kesenangan orang lain yang memandangku. Aku cenderung melakukan semua itu karena atas nama pengetahuan keagamaanku yang ternyata buruk di mata orang lain. Lalu aku harus bagaimana? Aku takbisa sesempurna mereka yang bisa memadupadankan antara trend dan kata hati. Aku terlalu kamseupay. Aku kuno.
Sebenarnya, sebelum kamu – orang yang saat ini kusukai – memintaku, aku sudah berusaha berubah agar lebih baik di matamu, tapi ternyata aku masih jadul. Kukira aku sudah sedikit pantas berjalan di sampingmu, ternyata belum. Lalu aku harus bagaimana lagi? Seandainya aku anak orang kaya, atau seandainya aku gadis yang hanya memikirkan style, shopping, dan foya-foya semata, pasti kamu akan mendapatiku sebagai wanita yang sempurna di matamu. Tapi aku tak bisa hanya sekadar seperti teman-temanku. Aku selalu ingin meraih mimpi-mimpiku – yang lebih dari sekadar penampilan luarku – dengan uang tabunganku sendiri. Kamera, cicin, handphone, sepatu, buku, tabungan (walaupun masih sedikit) dan semua yang kumiliki itu semua darimana kalau bukan dari menyisihkan uang sakuku? Hidup itu sulit, semua butuh uang sayang! Aku bukan teman-temanmu yang sebagian besar dengan mudahnya mendapatkan semua yang diinginkan dari orang tuanya secara cuma-cuma. Bahkan aku harus memberikan jaminan dulu kepada orang tuaku untuk mendapatkan tambahan uang saku.

Aku bisa saja menjadi sempurna di matamu, tapi asal kamu tahu, Kekasihku. Kalau kamu ingin aku menjadi sempurna, sedikit demi sedikit kamu juga akan kehilangan lebih baikku. Aku tidak maksud  lain, Sayang. Aku hanya ingin bilang, kalau kelak aku kehilangan lebih baikku, kamu masih bersedia mengingatkanku seperti saat mengingatkanku untuk sempurna. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik. JJ

Monday, 2 March 2015

Just Alone


Malam ini begitu menyebalkan. Bukan karena apa-apa, tapi karena hatiku sendiri yang sedang dikuasai sifat buruk manusia. Tapi ini juga termasuk hal yang berkaitan dengan kamu, Sayang.
Entahlah, Sayang. Mungkin aku yang terlalu cinta dan berharap lebih tentangmu, atau mungkin kamu yang kurang peka terhadapku. Sayang, bukannya aku berpikiran ingin perhitungan atau matre. Bukan itu maksudku kali ini, Sayang. Tapi, mungkin aku yang..... ahh..... entahlah. Sayang, sejujurnya aku ingin seperti teman-temanku. Aku ingin seperti mereka yang memiliki pasangan yang menelpon tiap malam sebelum tidur. Tidak.. tidak, tak perlu tiap malam bagiku, setidaknya sekali atau dua kali dalam seminggu itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku ingin kamu yang menelponku tanpa aku yang ngodein. Semua ini bukan karena aku tak sanggup menelponmu lagi, bukan Sayang. Tapi karena aku ingin sesekali kamu yang memulai, bukan aku. Aku selalu mempertaruhkan harga diriku setiap kali aku menelponmu duluan. Sebenarnya aku tak pernah melupakan nasihat ibuku untuk jangan menjadi wanita murahan yang kerap kali menelpon prianya. Tapi ternyata tanpa kusadari mungkin aku telah menjadi wanita yang sangat murahan karena sering menelponmu duluan karena “merindukanmu”. Dan aku benci pada diriku sendiri karena tak pernah bisa menahan untuk tidak menelponmu. Untuk berusaha tidak menelponmu duluan selama seminggu itu sulit, Sayang. Aku sering lupa memaketkan telponku untuk menelponmu, dan saat aku sadar, aku akan membiarkan paketanku sia-sia, semua ini bukan karena kamu, tapi karena aku sendiri. Mungkin semua ini karena aku yang terlalu berharap merindukanmu, atau mungkin aku yang sudah kehilangan urat maluku. Atau mungkin juga kamu yang tak pernah merindukanku seperti aku merindukanmu. Semoga semua ini karena kamu yang terlalu sibuk sehingga tak sempat menelponku, sedangkan aku yang selalu memiliki waktu luang terlalu banyak untuk merindukanmu.

Sayang, kalau aku tega, aku akan mencari sosok lain yang mampu mengajakku berdebat secara langsung, bercanda secara nyata, dan berbagi cerita walau hanya lewat suara. Aku terlalu lelah untuk bercerita lewat ketikan singkat di BBM, belum lagi karena hape-ku yang selalu lemot dan pending-an. Aku tak pernah keberatan dengan hubungan jauh ini, tapi jangan biarkan perasaanku merasa kita terlalu jauh lagi karena jarang mendengarkan suaramu. Jangan biarkan aku merasa sendirian, Sayang. Pernahkah kau tahu hal itu. Aku merasa kesepian. LL