Benar kan ,
Sayang? Aku bukanlah segalanya bagimu. Kini aku tau semua dari apa yang telah
kurasakan. Kamu lebih memilih yang lain daripada memilihku.Kamu lebih memilih
begadang buat nonton pertandingan bola, tapi kamu bisa tidur nyenyak saat aku
benar-benar dan sangaatt membutuhkanmu saat aku sedang terpuruk dan jatuh. Apa
sih yang telah diberikan pertandingan sepak bola itu padamu? Kesenangan?
Kebahagiaan? Iya, benar, aku tahu itu pula. Mereka (sepak bola) lah yang selalu
membuatmu bahagia. Sedangkan aku apa? Aku selalu membuatmu kecewa, aku selalu
merepotkanmu, aku hanya bisa mengeluh dan mengadu. Aku bisa apa lagi selain
membuatmu lelah? Tapi kemaren dan kini, aku sangat butuh kamu. Aku selalu
berusaha melakukan apa yang kamu inginkan. Kamu pengen aku cantik kan? Aku sudah
berusaha semaksimal mungkin, walaupun hasilnya hanya seperti ini. Kamu ingin
aku nggak cuek dan badmood-an lagi
kan? Aku sudah menjauhkan sifat itu dariku, walaupun sesekali aku badmood tapi tak memperlihatkan semua
itu padamu –- agar kamu suka.
Tapi kini
aku benar-benar butuh kamu. Kamu sadar itu nggak sih? Kamu bisa mengusahakan
bagaimanapun caranya agar bisa menonton pertandingan bola pada dini hari, tapi
kamu tidak bisa menahan kantukmu untukku dan mendengarkan ceritaku, walaupun
nggak sampai tengah malam. Iya, mungkin aku memang kurang penting bagimu,
tetapi entah mengapa aku sangat membutuhkanmu saat ini. Kamu nggak tau juga kan
tangisku selalu sebelum sang mimpi merangkul. Entahlah, yang kutahu dulu aku
sangat kuat, aku tak pernah menangis, aku jarang mengeluh, tapi kini aku
terlalu rapuh, terpuruk, dan jatuh – tapi aku belum menemukan orang yang
benar-benar ingin membangunkanku dari keterpurukan ini. Mungkin hanya Tuhan
yang akan dan selalu setia mendengarkan ocehanku sebelum tertidur. Semoga Dia
tidak pernah bosan mendengarkan curhatanku tiap malam, Sayang. Karena kalau Dia
bosan, lalu siapa yang akan mendengarkan keluh kesahku saat ini, sedangkan yang
lain sepertinya tak sanggup mendengarkan isi hatiku. LL

