Saturday, 1 November 2014

Kamu!!

Penghujung Malamku, Penghujung Oktoberku,


Malam yang melelahkan; lelah karena rindu dan selalu menunggu. Malam yang memburu untuk secepatnya menjelma pagi. Malam yang terlalu perih untuk kujadikan penghujung bulan ini.
Aku tak tahu permasalahan apa yang kamu; kita hadapi. Serasa ada badai kencang di pertengahan malam yang cerah ini, tiba-tiba kau tanyakan kepastian hubungan kita. Kau kenapa? Kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Kau tak pernah bicara padaku layaknya kau bicara pada teman terjauhmu. Kau tak pernah dengan nada santai bertanya lewat socmed, “Dari kemaren kita nggak jelas, menurutmu ita udahan atau gimana?” Lalu apa yang harus kupikirkan? Apa yang harus kujawab saat aku merasa tidak ada sesuatu yang salah dari hubungan ini sebelumnya?
Aku tak tau bagaimana perasaanmu saat ini, kecewakah? Bosankah? Atau memang kau sudah ada pengganti yang lebih baik dari aku? Jujur, poin terakhirlah yang menguasai seluruh pikiranku. Kamu jauh dariku, sudah bekerja, sudah memiliki pola pikir yang berbeda dariku karena aku memang masih berpikir seperti anak-anak. Lalu kenapaa?
Aku selalu berpikir positif setiap aku merindukanmu. Sungguh. Aku selalu beranggapan kalau waktu yang tak pernah berpihak padaku adalah semata-mata ujian dari Tuhan untuk hubungan kita. aku berpikir, ‘mungkin kamu sudah lelah denganku karena aku selalu menuntutmu?’ Lalu apa yang selalu kutuntut darimu? Setahuku aku bukan tipe pasangan yang selalu menuntut pasangannya untuk menjadi Romeo ataupun Superman. Aku tak pernah menuntutmu untuk selalu ada bersamaku, walaupun sudah berbulan-bulan kita tak bertemu. Aku tak pernah menuntutmu untuk menemaniku untuk menghabiskan malam minggu, meskipun satu bulan sekali. Aku tak pernah menuntutmu untuk harus menelponku di saat aku dalam keterpurukan. Lalu apa dosaku?
Sebenarnya, Kasih, di penghujung bulan ini aku ingin bercerita banyaakk mengenai suka dukaku selama empat hari terakhir ini. Aku memang tak pernah punya waktu untuk bercerita denganmu. Tak hanya kamu, bahkan aku juga tak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku melupakan makan, mandi, dan bahkan aku lupa bahwa aku sebenarnya sangat butuh dukungan penuh dari orang terkasih. Kamu tau, Kasih?  Semenjak hari Senin, aku selalu menghabiskan seluruh waktu mentariku menunggu di ruang jurusan. Kamu tau,disana aku tak hanya sekadar menunggu, tapi juga berjuang, dimarahi dosen, dip hp dosen dan TU, bahkan sampai dihujat kakak tingkat, karena aku ingin memberikan kejutan untukmu dan orang tuaku. Aku ingin menunjukkan kepada orang tuaku, kalau dengan berpasangan denganmu aku tak akan kehilangan prestasiku. Aku ingin menunjukkan kepada Ibuku bahwa denganmu, aku bisa mematahkan kepercayaan bahwa mahasiswa Bahasa akan lulus lama. Aku ingin membuktikan pada Ayahku, bahwa kamulah yang bisa membimbingku untuk sukses bersama di kemudian hari. Tapi kamu salah tentangku.
Memang benar kalau kamu berpikir, aku selalu tenggelam dengan urusanku sendiri. Kamu tak salah karena aku jarang menghubungimu. Tapi kamu bekerja, aku hanya akan menghubungimu saat pagi dan malam hari saja. Itu semua karena aku tak ingin mengganggu konsentrasimu. Maka dari itu, daripada aku berdiam diri di kos, lebih baik aku menggunakan waktuku seharian menunggu keputusan dosen untuk masa depanku; masa depan kita juga. Aku berharap aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu bekerja, aku berangkat ke kampus. Kamu pulang kerja, aku juga pulang dari kampus dan saling melepas rindu, walau hanya lewat BBM. Tapi yang ada malah kesalahpahaman antara kita.
Aku maklum, Sayang. Jarak kita memang sudah puluhan kilometer  terlampau jauuhh. Kita juga sudah terlalu lama tak bertemu dan melebur rindu. Tapi aku selalu berusaha berpikiran positif bahwa inilah jalan kita untuk bisa dipersatukan di kemudian hari. Inilah waktu yang diberikan Tuhan untuk saling menyimpan rindu yang akan dilebur di masa depan bersama-sama. Inilah waktu untuk kita saling melihat dan mengenal masing-masing dari kita dari kejauhan. Aku menganggap semua itu bonus yang diberikan Tuhan untuk hubungan kita, Sayang. Tapi aku tak tahu, bagaimana yang ada di dalam pikiranmu. Maaf, aku selalu mengecewakanmu. Maaf, aku selalu mengabaikanmu. Dan maaf, aku sudah memercayaimu dan memilih bertahan denganmu.

LLLLL