Monday, 2 March 2015

Just Alone


Malam ini begitu menyebalkan. Bukan karena apa-apa, tapi karena hatiku sendiri yang sedang dikuasai sifat buruk manusia. Tapi ini juga termasuk hal yang berkaitan dengan kamu, Sayang.
Entahlah, Sayang. Mungkin aku yang terlalu cinta dan berharap lebih tentangmu, atau mungkin kamu yang kurang peka terhadapku. Sayang, bukannya aku berpikiran ingin perhitungan atau matre. Bukan itu maksudku kali ini, Sayang. Tapi, mungkin aku yang..... ahh..... entahlah. Sayang, sejujurnya aku ingin seperti teman-temanku. Aku ingin seperti mereka yang memiliki pasangan yang menelpon tiap malam sebelum tidur. Tidak.. tidak, tak perlu tiap malam bagiku, setidaknya sekali atau dua kali dalam seminggu itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku ingin kamu yang menelponku tanpa aku yang ngodein. Semua ini bukan karena aku tak sanggup menelponmu lagi, bukan Sayang. Tapi karena aku ingin sesekali kamu yang memulai, bukan aku. Aku selalu mempertaruhkan harga diriku setiap kali aku menelponmu duluan. Sebenarnya aku tak pernah melupakan nasihat ibuku untuk jangan menjadi wanita murahan yang kerap kali menelpon prianya. Tapi ternyata tanpa kusadari mungkin aku telah menjadi wanita yang sangat murahan karena sering menelponmu duluan karena “merindukanmu”. Dan aku benci pada diriku sendiri karena tak pernah bisa menahan untuk tidak menelponmu. Untuk berusaha tidak menelponmu duluan selama seminggu itu sulit, Sayang. Aku sering lupa memaketkan telponku untuk menelponmu, dan saat aku sadar, aku akan membiarkan paketanku sia-sia, semua ini bukan karena kamu, tapi karena aku sendiri. Mungkin semua ini karena aku yang terlalu berharap merindukanmu, atau mungkin aku yang sudah kehilangan urat maluku. Atau mungkin juga kamu yang tak pernah merindukanku seperti aku merindukanmu. Semoga semua ini karena kamu yang terlalu sibuk sehingga tak sempat menelponku, sedangkan aku yang selalu memiliki waktu luang terlalu banyak untuk merindukanmu.

Sayang, kalau aku tega, aku akan mencari sosok lain yang mampu mengajakku berdebat secara langsung, bercanda secara nyata, dan berbagi cerita walau hanya lewat suara. Aku terlalu lelah untuk bercerita lewat ketikan singkat di BBM, belum lagi karena hape-ku yang selalu lemot dan pending-an. Aku tak pernah keberatan dengan hubungan jauh ini, tapi jangan biarkan perasaanku merasa kita terlalu jauh lagi karena jarang mendengarkan suaramu. Jangan biarkan aku merasa sendirian, Sayang. Pernahkah kau tahu hal itu. Aku merasa kesepian. LL

No comments:

Post a Comment