Milyaran detik setelah
kepergianmu, aku masih di sini. Ya, di sini dengan puing-puing rasa yang selalu
ingin kuselamatkan dari hasutan banyak orang. Puing-puing rasa yang ingin
kusatukan dengan lem percaya. Puing-puing rasa yang kutahu benar, mungkin sudah
hilang dari hatimu.
Kamu yang tak pernah
kubayangkan akan mengecewakanku, kini telah pergi untuk apa –atau siapa– yang
bahkan tak pernah sekalipun menanyakan kabarku di sini. Kamu yang semula akan
berusaha menemaniku walaupun terpisah namun nyatanya tak pernah sekalipun mau mendengar
ceritaku lagi. Kamu yang semula menemaniku merangkai mimpi bersama dan sekarang
semuanya hanya tinggal rangkaian mimpi yang terhembus angina malam. Entah untuk
apa atau siapa kamu pergi, sampai kini aku tak mengerti.
Cinta. Kini aku tahu, tak perlu
lagi aku mengganggumu dan meyakinkanmu. Aku tak akan memohonmu lagi untuk tetap
tinggal. Aku harus melepaskanmu –mungkin untuk sosok yang lain. Bukan karena
aku tak lagi mencintaimu, melainkan aku harus tetap bahagia dengan keputusanmu.
Kamu sudah dewasa, sudah bisa menilai yang terbaik untukmu. Mungkin aku memang
bukan orang yang tepat buatmu.
Maaf, karena selama ini aku tak
bisa menjadi yang tercantik, aku tak bisa selalu menemanimu saat dukamu, aku
tak bisa selalu memberikan perhatian lebih buatmu, aku tak bisa menjadi teman
ngobrol yang asyik buatmu, aku belum bisa memasak makanan kesukaanmu, aku belum
bisa membahagiakanmu. Maaf, karena hanya kesetiaan, cinta, dan kepercayaan saja
yang aku bisa berikan padamu. Maaf karena hanya tiga hal tak penting itu yang
bisa kupersembahkan padamu karena kemiskinanku. Maaf karena telah menghabiskan
banyak waktumu menciptakan jutaan kenangan terindah untukku. Salam kasih,
teruntuk yang Terkasih. Selamat jalan, Kasih. Berbahagialah selalu. J
No comments:
Post a Comment