“AKU SANGAT MEMBENCIMU!”
Entah kenapa aku ingin
memakimu seperti itu. Aku membencimu, Sayang! Kenapa sih kamu selalu seperti
itu? Jangan siksa aku lagi dengan merindumu. Aku benci merindumu. Sakit,
Sayang! Sakit! Kamu nggak pernah merasakan apa yang kurasa kan? Jangan buat aku
terlalu mencintaimu lagi! Rasanya tersiksa saat aku terlalu mencintaimu, tapi
kini rasamu sudah biasa terhadapku. Air mata ini serasa ingin berlari memelukmu
saat aku benar-benar merindukanmu.
Seingatku, tak pernah
sebelumnya aku merasakan sesak seperti ini. Aku takut rasa ini hanya cinta yang
bertepuk sebelah tangan semata. Aku takut cintamu hanya sesaat. Aku takut
rindumu hanyalah semu. Aku takut pelukanmu hanya karena kasihan padaku. Aku pun
takut, ciumanmu hanyalah pemuas napsumu belaka. Aku takut, Sayang!
Sayang, terkadang aku ingin
seperti pasangan cewek yang lain. Memintamu datang setiap waktu,
mempermasalahkan waktu dan kesibukan, menuntut ini – itu; tapi semua hal itu
terlampau jahat kalau kulakukan padamu. Aku mencintaimu dengan tulus dan
kerendahanku untuk selalu menyayangimu. Aku tak ingin dan tak mau berlaku jahat
padamu, walau terkadang aku memang sering melakukan kejahatan ringan yang
berat; padamu, Kekasihku.
Kini aku belajar menguapkan
ke-badmood-anku padamu; hingga sirna.
Aku telah belajar meninggalkan cinta khayalanku pada sebagian orang. Aku telah
belajar menjadi wanita dewasa yang mampu menerima segala kekuranganmu dan
memperbaiki kekuranganku; untukmu.
Sayang, bagaimana sih
perasaanmu padaku? Seberapa cinta kamu terhadapku? Seberapa benci kamu saat
menyikapi sikapku? Pernahkah kamu berpikir tentang masa depanmu, Sayang?
Pernahkah kamu berencana menikah denganku? Berkeluarga bersamaku? Memiliki anak
dariku? Pernahkah kamu berkhayal, bagaimana rasa dan bahagianya saat bangun
tidur dan yang tidur di sampingmu adalah aku? Pernahkah kamu membayangkan berbagi
kasih saat aku memasak di dapur dan tiba-tiba kamu datang memelukku dari
belakang? Pernahkah kamu membayangkan menciumku sebelum kita sama-sama
berangkat bekerja? Pernahkah kamu berkhayal, kelak kita akan berbagi cerita
suka duka, keluh kesah, dan akhirnya kita melepas lelah dengan memelukku
sebelum terlelap? Pernahkah semua yang pernah kukhayalkan ini singgah
dipikiranmu? Entah aku yang terlalu pengkhayal atau aku yang terlalu
mencintaimu hingga jadi pengkhayal seperti ini. Tapi Sayang, ada sebersit
bahagia dan lara saat aku mengkhayalkan semua khayalanku ini. Aku membencimu,
Sayang. L L

No comments:
Post a Comment