Thursday, 15 May 2014

Benci Mengkhayalmu

“AKU SANGAT MEMBENCIMU!”
Entah kenapa aku ingin memakimu seperti itu. Aku membencimu, Sayang! Kenapa sih kamu selalu seperti itu? Jangan siksa aku lagi dengan merindumu. Aku benci merindumu. Sakit, Sayang! Sakit! Kamu nggak pernah merasakan apa yang kurasa kan? Jangan buat aku terlalu mencintaimu lagi! Rasanya tersiksa saat aku terlalu mencintaimu, tapi kini rasamu sudah biasa terhadapku. Air mata ini serasa ingin berlari memelukmu saat aku benar-benar merindukanmu.
Seingatku, tak pernah sebelumnya aku merasakan sesak seperti ini. Aku takut rasa ini hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan semata. Aku takut cintamu hanya sesaat. Aku takut rindumu hanyalah semu. Aku takut pelukanmu hanya karena kasihan padaku. Aku pun takut, ciumanmu hanyalah pemuas napsumu belaka. Aku takut, Sayang!
Sayang, terkadang aku ingin seperti pasangan cewek yang lain. Memintamu datang setiap waktu, mempermasalahkan waktu dan kesibukan, menuntut ini – itu; tapi semua hal itu terlampau jahat kalau kulakukan padamu. Aku mencintaimu dengan tulus dan kerendahanku untuk selalu menyayangimu. Aku tak ingin dan tak mau berlaku jahat padamu, walau terkadang aku memang sering melakukan kejahatan ringan yang berat; padamu, Kekasihku. 
Kini aku belajar menguapkan ke-badmood-anku padamu; hingga sirna. Aku telah belajar meninggalkan cinta khayalanku pada sebagian orang. Aku telah belajar menjadi wanita dewasa yang mampu menerima segala kekuranganmu dan memperbaiki kekuranganku; untukmu.

Sayang, bagaimana sih perasaanmu padaku? Seberapa cinta kamu terhadapku? Seberapa benci kamu saat menyikapi sikapku? Pernahkah kamu berpikir tentang masa depanmu, Sayang? Pernahkah kamu berencana menikah denganku? Berkeluarga bersamaku? Memiliki anak dariku? Pernahkah kamu berkhayal, bagaimana rasa dan bahagianya saat bangun tidur dan yang tidur di sampingmu adalah aku? Pernahkah kamu membayangkan berbagi kasih saat aku memasak di dapur dan tiba-tiba kamu datang memelukku dari belakang? Pernahkah kamu membayangkan menciumku sebelum kita sama-sama berangkat bekerja? Pernahkah kamu berkhayal, kelak kita akan berbagi cerita suka duka, keluh kesah, dan akhirnya kita melepas lelah dengan memelukku sebelum terlelap? Pernahkah semua yang pernah kukhayalkan ini singgah dipikiranmu? Entah aku yang terlalu pengkhayal atau aku yang terlalu mencintaimu hingga jadi pengkhayal seperti ini. Tapi Sayang, ada sebersit bahagia dan lara saat aku mengkhayalkan semua khayalanku ini. Aku membencimu, Sayang.  L L

No comments:

Post a Comment