Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah
tangan..
Kaubuat remuk sluruh hatiku...
Sontak aku terkejut mendengar suara
lembut yang sayup-sayup terbawa angin. Aku yang sedang duduk di bawah pohon
rindang ini mencari sumber suara yang mengalunkan lagu Pupus tadi. Aku
mengumpulkan skesta bangunan yang sedari tadi menemaniku menikmati hembusan
angin di samping bangunan kampus seni rupa yang bercat krem. Aku berdiri
mengecek sekeliling, berharap menemukan sumber suara yang berhasil menyita
perhatianku. Aku berjalan ke belakang kampus, yang terlihat hanya beberapa
pepohonan rindang dan suasana yang sepi.
Sempat kutangkap sesosok perempuan
berkaos hitam dengan rambut yang diikat ekor kuda dari kejauhan. Dia berjalan
menuju kampus seni musik sambil menyanyikan lagu Pupus yang kudengar tadi. Aku
hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Entah apa yang membuatku begitu tertarik
dengan perempuan yang bahkan aku belum sempat bertemu sebelumnya.
“Hey, Ga! Ngapain lo disini? Kesurupan
tau rasa lo.” Panggil Dicky mengagetkanku. Dicky, salah satu temanku yang
berambut gondrong yang suka muncul tiba-tiba dan ngagetin.
“Nggak ngapa-ngapain. Eh lo tau nggak,
tadi gue liat cewek hlo.” Kataku.
“Cewek apaan? Sepi ini. Udah deh
mendingan balik ke kelas aja, udah jam satu lebih nih, nggak usah bikin cerita
horor di siang bolong.” Kata Dicky sambil menepuk bahuku.
Aku mengikutinya dan masih sering
menengok ke belakang berharap melihat cewek berkaos hitam tadi.
Sepulang kuliah aku langsung balik ke
kos, mengambil sepasang sepatu roda dan pergi lagi ke tempat main sepatu roda
dengan teman-teman. Kupasang headset ke telingaku sambil menikmati hembusan
angin yang membelai wajahku saat aku melaju dengan sepatu roda hitamku. Setelah
aku melakukan beberapa kali putaran, aku kembali ke tempat berkumpulnya
teman-temanku.
“Tuh Ga, lo dilirik Mely mulu tuh.”
goda Arman sambil nunjukin dimana Mely berada.
“Ah ngelirik lo kali.” Jawabku simpel.
“Emang lo gak tertarik ama Mely? Tuh
lihat, dia cewek paling cantik and seksi di kampus kita.
Banyak cowok yang ditolak gara-gara dia naksir lo tuh.” Kata Arman lagi.
“Enggak.” Jawabku sambil senyum.
“Rega tuh naksirnya ama cewek penghuni
belakang kampus kita.” Dicky menimpali.
“Mbak kunti maksud lo?” tanya Feri
disusul tawa teman-teman.
Sesaat aku ingat lagi dengan cewek yang
kulihat tadi siang di belakang kampus. Siapa ya dia? Tiba-tiba aku tersenyum
mengingat suara nyanyiannya.
“Ngapain lo senyum-senyum? Tuh kan udah
kesambet.”goda Dicky lagi.
“Udah ah, capek gue. Pulang yuk ah,
udah mo malem nih.” Kataku sambil berdiri.
“Oke, besok kuliah jam berapa, Guys?”
tanya Feri.
“Kebiasaan deh lo, jam sembilan
kayaknya. Gue balik dulu ya.” Kataku meninggalkan markas pinggir jalan dengan
diikuti Dicky, karena kami memang satu kos.
Pagi ini aku bangun lebih pagi dari
biasanya. Aneh memang, tapi aku tak mau ambil pusing. Setelah mandi aku cuma
pakai kaos cokelat oblong dan jeans hitam. Rambut kusisir gaya spikes seperti
biasanya, lalu aku berangkat pada jam yang masih pagi menurutku.
“Mau kemana, Ga pagi-pagi gini?” tanya
“Mau ngampus, bro.” Kataku sambil
memakai sepatu.
“Masih jam delapan nih, pagi amat.”
“Pengen main-main dulu nyari penghuni
belakang kampus. Haha”
“Udah gila lo ya.”
“Gue berangkat dulu ya.” Pamitku.
Di depan gerbang kampus aku bertabrakan
dengan cewek sampai biola dan kertas paranadanya terjatuh.
“Maaf Kak, maaf.” Ucap cewek itu.
“Oh iya, gak apa-apa kok.”
Sekilas kuperhatikan wajahnya yang
terlihat lugu dan lembut dengan kacamata frame putih. Rambut panjang yang masih
acak-acakan seolah menandakan kalau dia sudah terlambat masuk kelas. Setelah
kubantu mengumpulkan kertas paranada itu, dia langsung mengucapkan terima kasih
dan berlalu menuju kampus seni musik.
Kelas desain masih setengah jam lagi.
Aku menyetel musik di mp3 sambil duduk di bawah pohon beringin di samping
kampus menikmati suasana sepi ini. Memang jarang ada mahasiswa yang main atau
nongkrong disini, makanya aku suka menikmati suasana sepi di tempat ini.
Lalu aku mendengar nada ‘My Heart
Will Go On’ dari gesekan biola dengan lembut. Aku melepaskan headset
dari telingaku. Aku berjalan ke belakang kampus dan kutemukan seorang cewek
yang sedang memainkan biolanya di bawah pohon beringin yang tidak terlalu
lebat. Aku sangat menikmati permainan biolanya.
Aku mengambil kertas gambar dan pensil
dari tas dan mulai melukis cewek – yang entah siapa namanya – itu dari
kejauhan. Kugoreskan pensil pada kertas polos putih itu sampai tergambar
sesosok wanita yang anggun dengan biola di pundak kirinya.
Setelah kuperhatikan lagi dengan
teliti, aku seperti pernah melihat cewek ini, dan ingatanku tertuju pada cewek
yang tadi pagi menabrakku. Aku sudah tidak bisa menahan diriku untuk
mengenalnya lebih dekat. Aku berjalan pelan mendekatinya.
“Hai, permainan yang bagus.” Pujiku.
Dia yang terlihat terkejut langsung
menghentikan permainannya dan menundukkan kepalanya. Diraihnya tas hitam kecil
dan dimasukkannya kertas paranada yang tercecer di luar tas.
“Maaf, aku mengganggu kakak ya? Maaf.”
Ucapnya nerkali-kali sambil menundukkan kepalanya.
“Oh tidak kok. Aku malah menikmati
alunan permainan biola kamu. Sungguh.” Kataku meyakinkan.
“Maaf ya kak, aku pergi dulu kalau
begitu.” Kata cewek itu dengan wajah yang masih menunduk. Seolah dia ketakutan
atau hanya malu.
“Udah, nggak usah pergi. Disini aja
mainnya, kalau disini tak akan ada yang mengganggu.”
“Emm.. tapi kak?” katanya lagi sambil
menegakkan mukanya ke arahku.
Deg.. deg..
Jantungku langsung berdebar begitu
melihat mukanya secara langsung dan detail. Aku berusaha menyembunyikan
kegugupanku yang tiba-tiba muncul ini.
“Oh emm.. boleh tau, namamu siapa ya?
Kok aku baru liat kamu akhir-akhir ini aja?” tanyaku mengalihkan topik.
“Nada, kak.” Jawabnya singkat sambil
menundukkan kepalanya dan duduk di bangku yang ada disebelahnya.
“Semester berapa? Jurusan seni musik
ya? Kenalin gue Rega.” Salamku dengan senyuman.
“Masih semester 3 kak.” Jawabnya sambil
memasukkan biola ke dalam tas biolanya.
“Terus, ngapain kamu disini jam segini?
Nggak ada kuliah?” tanyaku lagi. Aku terlalu bersemangat untuk mengenalnya.
“Aku terlambat tadi, Kak. Makanya aku
nggak dibolehin masuk kelas. Ya kesinilah aku kalau nggak ada kelas. Hehe.”
Ujar Nada diikuti senyum lucunya.
“Oh lain kali sering-sering kesini aja,
biar aku bisa sering dengerin kamu main alat musik.” Kataku ramah.
“Iya Kak. Lha emangnya kakak ini nggak
ada kelas?” tanyanya heran.
Kulirik jam tangan di pergelangan
tangan kiriku. Sembilan lebih empat belas menit!
“Hah? Aku juga dah telat nih! Aku pergi
dulu ya Nad, salam kenal. Kapan – kapan main bareng disini ya.” Kataku sambil
setengah berlari dan tetap melemparkan senyum termanis padanya.
“Iya.” Jawab Nada sambil tersenyum
simpul.
Setelah perkenalanku dengan Nada, aku
jadi lebih bersemangat berangkat kuliah pagi. Entah karena aku memang sudah
rajin atau cuma ingin bertemu si Nada. Dicky yang sering melihat kelakuan
baruku ini jadi heran, karena biasanya dulu aku selalu berangkat bareng dia
mulu.
“Hai , Nad. Udah lama disini? Nggak ada
kelas ya?” tanyaku sambil meletakkan tas di bangku belakang kampus, tempat kita
berdua biasa nongkrong.
“Eh Kak Rega, nggak ada kelas kok. Hla
kakak nggak ada?” tanyanya sambil membenarkan kacamatanya.
“Ada, tapi entar jam sembilan. Lagi
ngapain nih?” tanyaku sambil melihat kertas paranada yang sedang dikerjakan
Nada.
“Oh ini, aku sih cuma iseng-iseng mau
ikutan lomba cipta lagu tingkat kampus, ya syukur-syukur dapet duit buat beli
sepeda. Hehehe.” jelas Nada disusul tawa manisnya.
“Wah keren dong. Gue doain deh menang
ya, kalo menang jangan lupa traktirannya.” Dukungku dengan candaan.
“Siapp pak bos, tapi aku nggak mau
terlalu banyak berharap, secara gitu lawanku pasti sudah pada ahli.” Katanya
seolah pesimis.
“Menang kalah sih sama aja, setidaknya
kamu udah mau berusaha itu udah hebat hlo. Semangat dong, jangan pesimis dulu.”
Kataku sambil mengacak-acak rambutnya.
“Iya deh, iya Kak. Udah ah aku mau
bikin ini dulu, Kak Rega ngapain gih sana. Hehe”
“Iya deh aku mau bikin sketsa aja,
nggak mau ganggu bos kecil berkarya.hahaha.” kataku lalu mengambil kertas
gambar dan diam – diam menggambar Nada yang sedang berpikir sambil mencoba
mengepaskan nada-nada biolanya.
Di kelas, Dicky tiba-tiba bertanya
padaku tentang cewek yang sudah merebut perhatianku itu.
“Ga, lo beneran naksir tuh cewek?”
tanya Dicky.
“Cewek yang mana?”
“Itu tuh cewek penghuni belakang
kampus. Tadi pagi gue liat lo ama tuh cewek di belakang. Dia kayaknya cupu gitu
deh, masa lo lebih milih cewek cupu gitu daripada Mely yang cantik and udah
lama naksir lo?”
“Ngga tau Dick, tapi di pikiran gue
yang ada cuma Nada, dia manis banget. Gue nggak sanggup ngelupain dia dari otak
gue.” Kataku sambil membayangkan wajah lugunya.
“Oooh, jadi Nada namanya? Kok lo jadi
melankolis gini sih, hahaha. Ya gue dukung deh lo, daripada entar malah gila.”
Ledek Dicky.
“Tapi tunggu deh, emang lo tau kalo dia
masih jomblo apa enggak? Ya ntar takutnya kalo ternyata dia udah punya pacar,
lo malah depresi, frustasi, trus bunuh diri lagi.” Sambung Dicky lagi.
“Belum tau sih, ya setidaknya gue
bisalah jadi temennya dia, daripada enggak sama sekali. Emangnya lo yang suka
mo bunuh diri dengan nyebur bak mandi?” ejekku lagi.
“Oke deh, gue nyerah aje sama lo.” Kata
Dicky ngalah.
‘Kak, hsil cipta laguku udh kukirim
nih. Mhon doanya ya J’
Isi pesan singkat dari Nada, setelah
aku berhasil minta nomer hp-nya dua minggu lalu.
‘Iya, gue doain semoga lolos ya Nad.’ Balesku.
Malam ini aku sedikit heran karena
tumben Nada sms aku lebih dulu. Biasanya dia memang tak pernah mengirim pesan
padaku lebih dulu. Tapi hal ini justru membuat aku tak bisa tidur semalam.
Berusaha menerka-nerka apakah Nada juga ada rasa padaku atau hanya sekadar
merasa nyaman berteman denganku.
Lima hari setelah Nada
mengirimkan hasil karyanya untuk lomba, pagi inilah hari pengumuman hasil lomba
tersebut. Aku yang penasaran dengan hasil pengumumannya, bersemangat untuk
menemui Nada. Aku yang terburu-buru ingin bertemu dengan Nada, tiba-tiba
berhenti dan berjalan pelan mendekatinya yang sedang terduduk menunduk di
bangku biasa kita bertemu. Aku melihat Nada seperti bersedih dengan selembar
kertas yang di pegang erat di tangan kirinya.
“Nada?” sapaku pelan.
“Eh Kak Ega.” Jawabnya terkejut setelah
menyadari aku sudah berdiri di sampingnya.
“Sudahlah Nad, jangan bersedih.
Setidaknya kamu udah berusaha kan?” kataku berusaha menenangkan.
“Bukannya gitu Kak, kali ini aku harus
tampil mendemonstrasikan apa yang sudah aku mulai.”
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini kak hasil pengumumannya, aku masuk
lima besar.” Ucapnya sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi pengumuman
lomba.
Aku membacanya dengan sungguh-sungguh
dan baru menyadari bahwa pengumuman ini berisi pemberitahuan bahwa Nada lolos
ke dalam lima besar dan harus tampil mempertanggungjawabkan karyanya untuk
menentukan pemenangnya.
“Nad, kamu lolos? Kamu lolos Nada! Puji
Syukur! Kamu lolos ini Nad! Selamat yaa!” ucapku yang tanpa sengaja memeluk
Nada saking bahagianya. Tiba - tiba aku menyadarinya dan melepaskan pelukanku
sambil meminta maaf.
“Tapi Kak, aku belum siap untuk tampil
di depan umum, apalagi di depan para juri. Seolah-olah mereka akan menghakimiku
dengan sejuta pertanyaan dan komentarnya. Sebelumnya aku nggak pernah tampil di
depan siapapun selain kedua orang tuaku.” Akunya sambil menundukkan wajahnya
lagi.
“Dan teman-temanmu? Tak pernahkah kau
bermain di depan mereka?” tanyaku heran.
“Hmm,, aku tak pernah mempunyai teman,
setelah satu-satunya temanku pergi dalam kecelakaan waktu perjalanan rekreasi
kelas 2 SMP. Makanya sampai sekarang aku nggak punya teman, gara-gara aku
memang sulit berteman.”
“Maaf ya, aku malah membuka luka
lamamu. Tapi sekarang, disini ada aku. Aku siap menjadi temanmu dan menemanimu
kapanpun kau mau. Jadi kau tak perlu bersedih lagi ya. Oh iya, kapan kamu harus
tampil? Mulai sekarang kamu berlatih ya, aku yang jadi jurinya.”
“Oke deh, tapi nanti aku malah
mengganggu waktunya Kak Ega lagi?”
“Enggaklah, santai aja lagi. Aku malah
seneng bisa ngeliat orang lain main alat musik.” Jawabku meyakinkannya.
Setelah hari itu, aku selalu menemani
Nada berlatih untuk mengikuti lomba final tersebut. Dicky dan teman-teman
nongkrongku mulai merasa kalau aku semakin jauh dari mereka. Apalagi Mely yang
kabarnya suka sama aku, sekarang malah sering marah karena jarang kumpul dengan
teman-temanku.
Sampai pada suatu siang saat aku
menemani Nada latihan di tempat biasa, Dicky, Arman dan Mely tiba-tiba datang
menemui kami.
“Hey, Ga!” sapa Arman sambil berjalan
mendeati kami.
“Hey, bro! Tumben kalian pada kesini.
Ada apa nih?” tanyaku heran.
Kejadian ini membuat Nada menghentikan
latihannya. Dia memperhatikan kami satu per satu karena mungkin merasa asing
dengan wajah-wajah baru.
“Oh ini nih yang sudah bikin Rega jauh
dari kami?” tanya Mely sinis.
“Apa-apaan sih Mel? Biasa aja deh. Nad,
kenalin mereka temen-temen gue. Ini Arman, yang gondrong itu Dicky, dan dia
Mely.” Kataku sambil mengenalkan teman-temanku ke Nada.
“Aku Nada, salam kenal.” Ucapnya sambil
menunduk.
“Cewek yang manis.” Puji Dicky.
“Hih, sok imut banget deh!” kata Mely
sinis.
“Yang sopan dong Mel!” bentakku.
“Sopan? Emang gue lagi ngomong sama
rektor? Gue ini lebih tua dari dia, Ga!”
“Udah, gak usah dengerin mereka. Kamu
jurusan seni musik ya, Nad?” kata Arman mengalihkan pandangan Nada.
“Kesini deh Mel!” kataku sambil menarik
Mely ke tempat yang agak jauh dari Nada.
“Lo itu apa-apaan sih? Tiba-tiba
dateng, terus ngomong sinis kaya gitu ke temen gue. Emang apa masalah elo sih?”
tanyaku mencoba tetap tenang.
“Lo tanya masalahnya apa? Lo tau kan,
dari dulu gue suka sama elo, gue cinta sama elo, perhatian sama elo, tapi lo
nggak pernah perhatian ke gue kaya lo perhatian ke Nada. Gue cemburu, Ga!” aku
Mely.
“Maaf sudah bikin lo cemburu. Tapi
pernahkan aku bilang cinta juga ke kamu? Dari dulu lo juga tau kan, gue cuma bisa
berhubungan sama elo selayaknya seperti teman biasa, nggak lebih.” Jujurku.
“Iya, tapi gue kira elo bisa cinta sama
gue seiring berjalannya waktu. Dan tiba-tiba cewek itu dateng dan merebut semua
perhatianmu.” Kata Mely dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf Mely, rasa ini tidak bisa
dipaksakan. Aku sudah jatuh hati sama dia, walaupun aku tak tahu bagaimana
dengannya. Setidaknya aku masih bisa melihatnya tersenyum di dekatku. Aku
bahagia.” Kataku sambil memandang wajah manis Nada dari kejauhan.
“Kamu benar-benar keterlaluan Ga.” Kata
Mely sambil pergi meninggalkan kami, setelah menatap tajam ke mata Nada.
Nada seperti ketakutan. Arman dan Dicky
mengikuti Mely dan berusaha menenangkannya. Aku mendekati Nada dan berusaha
menjelaskan semuanya.
“Maaf ya Nada, tadi cuma salah paham.”
Ucapku.
“Maaf Kak, aku sudah menyebabkan
masalah diantara kakan dan temen-temen kakak.”
“Enggak kok, Nad. Masalah tadi dilupain
aja ya, biar kamu konsen pada pertunjukan dua hari yang akan datang.” Kataku
lagi.
“Kak, aku pulang dulu ya, sudah sore.
Maaf kak, sudah mengganggu waktu kakak.” Kata Nada dan berlalu meninggalkanku.
Aku hanya mampu memperhatikan sosok
Nada dari belakang. Aku ingin berteriak kencang kalau aku mencintainya. Tapi
aku takut kalau hal ini menciptakan jarak diantara kita. Aku tidak mau hal ini
terjadi.
Pagi harinya aku pergi ke tempat biasa,
berharap menemui sosok manis Nada yang selama ini mewarnai hidupku. Tapi aku
tidak beruntung. Aku tidak menemukannya di tempat biasa. Aku mencoba mencarinya
di kampusnya, berharap bisa melihat senyumnya. Aku merasa bersalah padanya.
Dicky yang dari tadi menemaniku mencari Nada, menepuk pundakku supaya aku
sabar.
“Sabar ya, Ga. Lo pasti bisa nemuin dia
kok.” Kata Dicky.
“Iya Dick, gue merasa bersalah banget
gara-gara kejadian kemaren. Gue takut nggak bisa ketemu dia lagi.” Sesalku.
“Bukannya dia pasti tampil di
pertunjukan demonstrasi karyanya?” tanya Dicky.
“Oh iya, besok! Besok dia bakalan
tampil di Auditorium. Gue harus dateng dan minta maaf padanya besok.” Kataku
bersemangat lagi.
“Dan menyatakan perasaanmu padanya
kalau lo tak ingin kehilangannya lagi.” Nasihat Dicky.
“Akan kuusahakan.” Jawabku mantab.
Hari ini adalah hari dimana Nada akan
mempertunjukkan hasil kerja kerasnya demi memenangkan lomba cipta lagu ini.
Dari tadi malam aku tidak bisa tidur karena tidak sabar ingin segera melihat
penampilan Nada di atas panggung.
Pagi ini aku sudah duduk di barisan
nomor tiga dari depan di temani Dicky. Aku tidak memperhatikan kontestan yang
lain. Aku hanya menunggu penampilan Nada.
“Dan peserta yang ke empat adalah Nada
Margaretha. Selamat menyaksikan!” Kata MC disambut tepuk tangan meriah dari
penonton.
Aku melihat Nada keluar dengan gaun
hitam selutut dan biola hitamnya. Ada yang berbeda dari penampilan Nada kali
ini. Dia tampil tanpa kacamata dengan rambut yang diponi dan diurai ke belakang
dan dihiasi bandana warna perak bermotifkan berlian.
Dia terlihat begitu anggun dan sangat
cantik. Bahkan aku tak ingin berkedip karena ingin selalu melihat setiap detail
gerak dan wajahnya. Aku sudah terhipnotis dalam mantra nada yang mengalun dari
gesekan biola yang dimainkannya. Seolah aku ingin melihat lebih dekat lagi
seperti saat aku melihatnya berlatih.
Suara tepuk tangan dari penonton
membuyarkan lamunanku tentang Nada. Tentang dia yang kucinta. Setelah
penampilannya, aku langsung pergi ke belakang panggung, berharap bisa
menemuinya. Aku melihat dia sedang berpelukan dengan dua orang yang aku pikir
mungkin itu orang tuanya.
Seperti tanpa sengaja dia melihatku
yang tengah berdiri memandanginya dari jauh. Dia berjalan mendekatiku dan aku
berjalan maju menghampirinya. Kami bertemu pandang, terdiam dan tersenyum
bersama.
“Hai, Nada! Tadi penampilan yang sangat
bagus. Selamat ya karena sudah berhasil tampil dengan memukau.” Sapaku hangat
sambil menjuluran tangan untuk menyalaminya.
“Terima kasih Kak Ega. Ini semua juga
berkat Kak Ega yang sudah bersedia menemaniku selama latihan.” Ucap Nada,
manis.
“Bukan, ini semua tentangmu. Tentang
kemauanmu, usahamu, dan kerja kerasmu selama ini. Dan tentang aku yang ingin
selalu melihatmu berlatih, ingin selalu bersamamu dan aku yang ingin meminta
maaf padamu tentang kejadian waktu itu.”
“Sudahlah Kak, aku sudah tau semuanya
kok. Kakak nggak bersalah tentang kejadian itu. Kak Mely sudah bercerita banyak
padaku.” Kata Nada dengan senyum yang merekah.
“Benarkah? Apakah dia juga bercerita
tentang aku? Tentang perasaanku padamu?” tanyaku.
“Perasaan? Maksud kak Ega?” tanyanya
balik.
“Nada, sejak awal aku mendengar suaramu
dan belum tahu siapa kamu, aku sudah jatuh hati pada pemilik suara merdu itu.
Aku selalu berusaha menemukan siapa pemilik suara itu, dan itu kamu. Aku
mendengarmu bernyanyi, melihatmu bermain alat musik, dan menemanimu berlatih,
semua itu karena aku telah jatuh hati padamu sejak pertama kali mendengar
suaramu. Aku mencintaimu. Aku nggak mau kehilanganmu lagi.” Jujurku sambil
memegang kedua tangannya.
“Tapi Kak...” ucapnya terputus.
“Apakah kamu sudah punya kekasih lain?”
tanyaku ragu.
“Bukan, bukan begitu. Sejujurnya aku
juga bahagia saat bermain dengan kakak, aku juga berlatih giat supaya aku bisa
tampil bagus untuk kakak. Tapi maaf, aku sudah lancang diam – diam juga
mencintai kakak. Maafkan aku kak.” Akunya.
Aku yang sedari tadi sudah berusaha
menerima penolakan cinta dari Nada, langsung terkejut dengan pernyataannya
bahwa dia juga mencintaiku. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi dan langsung
memeluknya.
“Kamu serius? Nggak bercanda kan? Jadi
maukah kau mengisi hari-hariku untuk kedepannya dengan cinta kita berdua?”
kataku menembaknya.
“Hehemm, iya Kak.” Jawabnya setuju
sambil tersenyum malu – malu.
Sekali lagi aku memeluknya dengan erat
seperti tak ingin kehilangan dirinya lagi.
Kami menunggu pengumuman pemenang dengan was-was. Saat MC mengumumkan siapa juara ketiga, aku berharap semoga Nada masuk ke dalam tiga besar. Dan ternyata nama Nada Margaretha disebut pada urutan juara kedua. Kami bersorak ria, tak perlu juara satu untuk menunjukkan bahwa kita menang, tapi menurutku Nada sudah menjadi juara karena dia sudah mau berusaha dan menunjukkan pada dunia bahwa dia bisa lebih baik dari orang lain.
Aku berpelukan dengan Nada sebagai
ucapan selamat setelah dia berpelukan dengan kedua orang tuanya. Aku begitu
bahagia melihat dia tersenyum dan tertawa dengan begitu lepas dan polosnya.
Nada, gadis yang telah mengalunkan
nada-nada cintaku hingga menyentuh palung hati. Nada, gadis lugu yang berhasil
meluluhkanku. Nada, yang kuharap selalu menciptakan nada-nada baru di dalam
hidupku bersamanya.

No comments:
Post a Comment